Category Archives: Berita Industri

MIT: The Future of Solar Energy

Report yang menarik dari MIT tentang future dan prospect dari berbagai teknologi sel surya dan aspek ekonomisnya, silakan cek di link berikut

http://mitei.mit.edu/futureofsolar

Iklan

Rekor efisiensi sel surya thin film dipegang oleh Solar Frontier (22.3%)

Rekor efisiensi sel surya thin film sekarang jatuh ke Solar Frontier, salah satu perusahaan fotovoltaik dari Jepang. Mereka berhasil mencapai efisiensi 22.3% pada sel ukuran 0.5 cm2. Sebelumnya rekor efisiensi dipegang oleh ZSW Stuttgart Germany (Stuttgart Centre for Solar Energy and Hydrogen Research) dengan efisiensi 21.7%. Mereka menggunakan Copper Indium Gallium Diselenide/Disulfide (CIGS) sebagai photoabsorber. Untuk saat ini msih belum jelas aspek apa secara detail yang mereka berhasil tingkatkan untuk mencapai efisiensi ini, namun dari situs resminya disebutkan bahwa optimasi absorber CIGS and junctionnnya yang memegang peran penting. Target jangka panjang mereka adalah efisiensi lebih dari 30% dengan teknologi CIGS.

Efisiensi adalah faktor penting dalam harga cost/watt suatu modul surya. Dengan meningkatnya efisiensi sel surya, maka cost/watt akan semakin turun, dengan catatan cost teknologi untuk memproduksi sel surya tersebut tidak berbeda jauh/tetap atau bahkan lebih murah.

 

c051173

Sel surya thin film CIS dari Solar Frontier.  Sumber: Solar Frontier

*Sumber: http://www.solar-frontier.com/eng/news/2015/C051171.html

 

Olah Potensi 112.000 GWp dengan Fotovoltaik

Peluang bisnis di bidang energi pembangkit listrik tenaga surya demikian besar. Indonesia memiliki potensi energi surya sebesar 4.8 KWh/m2 setara 112.000 GWp sepuluh kali lipat dari potensi Jerman dan Eropa. Sumber energi yang renewable tidak lama lagi bakal berakhir.

Sumber gambar: http://m.energitoday.com/

Sumber gambar: http://m.energitoday.com/

Semestinya kekhawatiran terhadap sumber energi justru menginspirasi dan memotivasi anak-anak bangsa. Kita dapat melakukan terobosan untuk menciptakan teknologi untuk mengolah kekayaan dan potensi sumber energy terbarukan untuk mengganti  sumber energi yang renewable. Saatnya kita berpaling untuk memanfaatkan kekayaan dan potensi energi yang sumbernya beragam seperti tenaga surya/sinar matahari.

Apakah kita punya good will? Pertanyaan ini yang harus dijawab oleh para pakar energi dan teknologi. Pemerintah telah memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk menerangi beberapa pedesaan di tanah air. Sayangnya, pemanfaatannya belum maksimal. Tahun 2013 hingga tahun 2014, pemerintah  baru berhasil melelang 8 atau 10 persen dari 80 proyek PLTS yang pembangunannya direncanakan hingga tahun 2015.

Berdasarkan data dari Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, proyek PLTS itu berlokasi di Kupang, Nusa Tenggara Timur yang kapasitas 5 MW dengan investasi Rp100 miliar—harga di luar tanah. PLTS itu beroperasi akhir tahun 2014.

Sementara itu, tujuh lokasi proyek PLTS lainnya yang dipilih adalah  Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat dengan kapasitas 2 MW, Gorontalo, Sulawesi Tenggara berkapasitas 2 MW, dan di Sintang, Kalimantan Barat 1,5 MW. Di desa Nanga Pinoh, Kalimantan Barat juga dibangun PLTS dengan kapasitas 1 MW, di Kota Baru, Kalimantan Selalatan dengan 2 MW, di Tanjung Selor, Kalimantan Timur berkapasitas 1 MW, dan di Atambua, NTT sebesar 1 MW. Proses lelang tidak dapat dilakukan serentak, melainkan satu per satu proyek mengingat teknologi yang digunakan demikian padat.

Potensi PLTS Indonesia lebih besar dari Jerman/Eropa

Kebutuhan listrik terus meningkat sesuai dengan kemajuan masyarakat. Apabila pemerintah kurang berhasil memenuhinya keadaan menjadi masah besar. Sekadar catatan, energi listrik yang mampu dipasok oleh PLN baru 1500-2000 MW. Oleh karena itu, PLN sering melakukan pemadaman listrik bergilir. Proyek listrik 10.000MW yang sudah selesai dibangun belum mampu memenuhi permintaan listrik yang terus melonjak tiap tahun.

Kita mengharapkan agar sumber energi alternatif tidak hanya bersifat renewable dan mudah dikonversi menjadi energi listrik, dan juga ramah lingkungan. Energi yang paling sesuai adalah energi surya.

140115-02b

Gambar di atas menunjukkan potensi tenaga surya dunia. Potensi tenaga surya Indonesia secara umum berada pada tingkat satisfy (cukup) yang dapat kita jadikan sebagai salah satu patokan untuk menyusun perencanaan pembangunan sumber energi PLTS pada masa depan. Menuju pada tingkat kemampuan yang baik dalam hal supply tenaga listrik yang bersumberkan dari energi surya, kita memerlukan teknologi konversi tenaga surya menjadi tenaga listrik—bukanlah teknologi sederhana. Teknologi ini memerlukan berbagai mesin, sistem, komponen yang harus dihitung cermat dan baik agar sesuai dengan kondisi alam Indonesia.

Menurut Phelia salah seorang pemerhati tenaga surya, proses teknologi surya melibatkan fluida gerak yang menyerap panas dari surya. Fluida itu melalui turbin yang mengkonversi panas menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini diteruskan ke generator dan dikonversikan menjadi energi (sumber) listrik.

Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi alternatif untuk mengatasi krisis energi, khususnya minyak bumi, yang terjadi sejak tahun 1970-an mendapat perhatian yang cukup besar dari banyak negara di dunia. Di samping jumlahnya yang tidak terbatas, pemanfaatannya juga tidak menimbulkan polusi yang dapat merusak lingkungan. Cahaya atau sinar matahari dapat dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan teknologi sel surya atau fotovoltaik.

Potensi energi surya di Indonesia sangat besar yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp. Indonensia memanfaatkan baru sekitar 10 MWp. Untungnya, pemerintah telah mengeluarkan roadmappemanfaatan energi surya yang menargetkan kapasitas PLTS terpasang hingga tahun 2025 mencapai sebesar 0.87 GW atau sekitar 50 MWp/tahun. Jumlah ini merupakan gambaran potensi pasar yang cukup besar dalam pengembangan energi surya pada masa datang.

Komponen utama sistem PLTS dengan menggunakan teknologi fotovoltaik adalah sel surya. Saat ini terdapat banyak teknologi pembuatan sel surya. Sel surya konvensional yang sudah komersial  adalah penggunaan teknologi wafer silikon kristalin yang proses produksinya cukup kompleks dan mahal. Secara umum, pembuatan sel surya konvensional diawali dengan proses pemurnian silika untuk menghasilkan silika solar grade (ingot), dilanjutkan dengan pemotongan silika menjadi wafer silika. Selanjutnya wafer silika diproses menjadi sel surya, kemudian sel-sel surya disusun membentuk modul surya.  Tahap terakhir adalah mengintegrasi modul surya denganbalance of system (BOS) menjadi sistem  PLTS. BOS adalah komponen pendukung  yang digunakan dalam sistem PLTS seperti inverter, batere, sistem kontrol, dan lain-lain.

Sumber gambar: http://www.bursaenergi.com/

Meski pengembangan PLTS telah mempunyai basis yang cukup kuat dari aspek kebijakan, namun pada tahap implementasi, potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Secara teknologi, industri photovoltaic (PV) di Indonesia baru mampu melakukan pada tahap hilir—memroduksi modul surya dan mengintegrasikannya menjadi PLTS, sementara sel suryanya masih impor. Padahal sel surya adalah komponen utama dan yang paling mahal dalam sistem PLTS. Harga yang masih tinggi menjadi isu penting dalam perkembangan industri sel surya. Berbagai teknologi pembuatan sel surya terus diteliti dan dikembangkan dalam rangka upaya penurunan harga produksi sel surya agar mampu bersaing dengan sumber energi lain.

Ratio elektrifikasi di Indonesia baru mencapai 55-60 % dan hampir seluruh pedesaan belum dialiri listrik—jauh dari pusat pembangkit listrik. Oleh karena itu, PLTS yang dibangun hampir di semua lokasi merupakan alternatif sangat tepat untuk dikembangkan. Dalam kurun waktu tahun 2005-2025, pemerintah telah merencanakan menyediakan 1 juta Solar Home System berkapasitas 50 Wp untuk masyarakat berpendapatan rendah serta 346,5 MWp PLTS hibrid untuk daerah terpencil. Hingga tahun 2025 pemerintah merencanakan akan ada sekitar 0,87 GW kapasitas PLTS terpasang.

Dengan asumsi penguasaan pasar hingga 50%, pasar energi surya di Indonesia sudah cukup besar untuk menyerap keluaran dari suatu pabrik sel surya berkapasitas hingga 25 MWp per tahun. Hal ini tentu merupakan peluang besar bagi industri lokal untuk mengembangkan bisnisnya ke pabrikasi sel surya.

Dengan wilayah yang luas dan intensitas cahaya matahari yang tinggi, pasokan listrik dari tenaga surya bisa menjadi andalan, demikian Principal Advisor Deutsche Gessellschaft fur Internationale Zusammenarbeit Indonesia Rudolf Rauch. Ia menambahkan Jerman dengan intensitas matahari yang tidak terlalu tinggi, bisa membangkitkan listrik 25 ribu Megawatt. “Indonesia memiliki potensi 6 hingga 10 kali dari Jerman,” kata  Rudolf pada April 2012.

140115-02d

Rudolf mengakui bahwa pengembangan pembangkit listrik tenaga surya menyerap investasi yang besar. Pembangunan pembangkit surya berkapasitas 7.500 Megawatt di Jerman yang menelan investasi 50 miliar Euro (Rp606,5 triliun). Sedangkan biaya pembangunan pembangkit surya di Indonesia bisa lebih murah karena paparan sinar matahari 50 persen lebih banyak ketimbang di Eropa. Pembangunan pembangkit berkapasitas 10.000 MW misalnya, diperkirakan memerlukan investasi 10 miliar Euro (Rp121,3 triliun). Padahal Indonesia mensubsidi sekitar 20 miliar Euro atau Rp242,6 triliun setahun seperti diungkapkan oleh  Martin Krummeck, Deputi Managing Director German-Indonesian Chamber of Industry and Commerce (Ekonid).

Kunci kebehasilan PLTS terletak pada penyusunan receiver dengan bahan dan susunan yang dapat menyerap energi panas dari matahari dengan baik dan memiliki harga yang ekonomis. Untuk mampu menyerap energi panas diperlukan struktur film yang kristalin. Dalam pembuatan satu sel dengan struktur kristalin diperlukan teknologi yang baik dan cukup mahal. Umumnya bahan ini berbasiskan silikon. Sebagai gambaran, bentuk receiver panas surya dapat dilihat pada gambar pada awal tulisan ini. Receiverberbentuk silinder tersusun dari tabung gelas, ruang vakum dan sel penyerap panas.

Selain dalam hal receiver panas kendala lain dalam aplikasi sel surya adalah pembuatan baterai penyimpan energi listrik yang murah. Oleh karena itu, penelitian ke arah teknologi sel surya dan komponen-komponennya yang lebih ekonomis dan praktis sangat diperlukan. Dengan demikian, teknologi ini diharapkan tidak hanya menjadi teknologi yang berguna bagi negara maju namun juga bagi daerah yang mengalami keterbatasan pasokan listrik.

Salah satu contoh PLTS  jenis komunal sedang dibangun di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Kepala Bidang Ketenagalistrikan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Nunukan Yosua Batara mengatakan, akan ada tiga PLTS komunal yang dibangun di wilayahnya pada tahun ini. PLTS yang dibangun di Desa Srinanti, Kecamatan Simenggaris berkapasitas 50 kilowatt volt (KWV), Desa Bukit Harapan, Kecamatan Sebatik Tengah 50 KWV, dan Desa Balatikon, Kecamatan Sebuku 10 KWV.

Pembangunan PLTS tidak akan berhenti di tiga lokasi tersebut saja. Selanjutnya, PLTS komunal juga akan dibangun di kecamatan yang berbatasan dengan Negeri Sarawak, yakni Kecataman Krayan dan Kraya Selatan.

Pembangunan PLTS komunal diperuntukkan bagi kecamatan yang masih sulit dijangkau oleh jaringan listrik. Pembangunan PLTS ini merupakan rangkaian program Pemkab Nunukan, yakni Gerbang Emas (Gerakan Pembangunan Ekonomi Mandiri, Aman dan Sejahtera) dengan slogan “Perbatasan Terang Benderang”. “PLTS akan dibangun secara terpusat dan selanjutnya akan dialirkan ke rumah-rumah penduduk,” jelas Yosua.

Bupati Nunukan Basri mengatakan, pembangunan PLTS komunal ini telah menjadi upaya pemerintah pusat dan daerah dalam memberikan pelayanan tenaga listrik bagi masyarakat di wilayah perbatasan dan terpencil di daerahnya. Pasalnya, listrik telah menjadi kebutuhan primer. (Sumber tulisan: Diolah dari http://www.litbang.esdm.go.id, tender-indonesia.com, TEMPO, ANTARA,  dan lain-lain).

 

*Sumber: http://www.mmindustri.co.id/olah-potensi-112-000-gwp-dengan-fotovoltaik/

Timeline sejarah energi surya (infographic)

Dibawah ini adalah infographic mengenai timeline sejarah perkembangan energi surya yang sangat menarik dan ilustratif,  dari mulai ditemukan efek fotovoltaik pertama kali oleh Becquerel pada tahun 1839 sampai dengan kondisi tahun 2013.  Gambar ini diambil dari situs theecoexperts.co.uk.

The_Solar_Timeline (1)

Timeline Sejarah Energi Surya. (silakan di zoom untuk lebih jelas)

*Sumber: http://www.theecoexperts.co.uk/the-history-of-solar-energy-infographic

PLN Barter Listrik dengan Pelanggan Tenaga Surya

Metrotvnews.com, Jakarta: PT PLN (Persero) siap menerima kelebihan energi listrik yang dihasilkan pelanggan pengguna panel surya dengan menerapkan sistem ekspor-impor. Sistem ini dilakukan PLN kepada pelanggan pengguna panel surya sebagai upaya mendorong percepatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).

Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwiyanto menjelaskan untuk pelanggan PLN yang menggunakan panel surya, PLN akan memasang meter listrik ekspor-impor. “Pengiriman kelebihan listrik dapat terjadi karena pelanggan memiliki dua sumber pasokan listrik, dari panel surya dan dari PLN,” ujar Bambang dalam siarang pers yang diterimaMedia Indonesia, Kamis (21/11).

Energi listrik yang diterima PLN dari panel surya akan di-offset oleh PLN dengan energi listrik yang dikirim PLN ke pelanggan. “Bila listrik yang diterima PLN dari panel surya lebih besar dari listrik yang dikirim PLN, selisihnya menjadi deposit listrik yang akan diperhitungkan untuk pemakaian listrik bulan-bulan berikutnya.” kata dia.

Selain untuk mendorong pemanfaatan EBT, sistem ekspor-impor listrik juga bermanfaat menambah kapasitas pasokan listrik kepada pelanggan. “Hingga saat ini sudah ada beberapa pelanggan yang memanfaatkan panel surya dan melakukan barter energi listrik dengan PLN,” cetusnya.

Para pelangan PLN yang memasang panel surya di bangunan miliknya untuk memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri selain dari PLN dapat menggunakan energi listrik yang dihasilkan dari panel surya tersebut secara pararel dengan pasokan listrik dari PLN. Misalnya, dari pukul 07.30 hingga 17.00 pelangan menggunakan listrik dari panel surya miliknya. Kemudian sore, malam, dan menjelang pagi, pelanggan beralih menggunakan listrik dari PLN. (Ayomi Amindoni)

 

*Sumber: Metrotvnews

RI Lelang Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya di 80 Lokasi

Liputan6.com, Jakarta : Pemerintah akan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di 80 lokasi yang tersebar di Tanah Air. Proyek itu ditargetkan bisa menghasilkan listrik 140 megawatt peak (MWp).

“Dari kapasitas 140 MWp tersebut pengembangan kapasitas di setiap daerah berbeda, minimum 1 MWp bahkan ada yang 8 MWp,”ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Rida Mulyana seperti dikutip dari situs Ditjen EBTKE, Kamis (22/8/2013).

Rida menjelaskan, 80 lokasi dengan total kapasitas 140 MWp yang akan dilelang tersebut merupakan sebagai pelaksanaan dari peraturan menteri (Permen) ESDM nomor 17 tahun 2013 yang mengatur pembelian tenaga listrik berbasis tenaga surya fotovoltaik oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero).

Dalam regulasi yang ditandatangani Menteri ESDM, Jero Wacik pada 12 Juni 2013, ditetapkan harga patokan tertinggi pembelian tenaga listrik dari PLTS fotovoltaik oleh PLN yaitu US$ 25 sen per kilowatthour (kWh).

Namun akan ada insentif dan ditetapkan dengan harga patokan tertinggi sebesar US$ 30 per kWh dengan catatan PLTS fotovoltaik menggunakan modul fotovoltaik dengan tingkat komponen dalam negeri sekurang-kurangnya 40%. Ketentuan mengenai tingkat komponen dalam negeri dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (Pew/Ndw)

 

*Sumber: liputan6.com

Pemerintah Tetapkan Harga Listrik PLTS US$ 0,25 per Kwh

Jakarta,EnergiToday—Pemerintah merilis belied baru terkait kewajiban PLN membeli listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Fotovoltaik milik swasta.

Harga jual sentrum tertinggi yang ditetapkan US$ 0,25 per kilowatt hours (kwh) ditambah insentif US$ 0,05 per kwh.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi terbarukan Kementerian ESDM Alihuddin Sitompul menjelaskan, investor PLTS dapat memperoleh harga jual listrik dengan total US$ 0,3 per kwh apabila telah memenuhi syarat dengan memenuhi tingkat kandungan dalam negeri sebesar 40%.

“Jika komponen utama seperti Fotovoltaik atau modul surya, inverter, dan controller seluruhnya diimpor, harga maksimalnya sebesar US$ 0,25 per kwh,” katanya kepada Kontan, Senin (24/6).

Menurut dia, apabila investor hanya mampu memenuhi kandungan kurang dari 40%, maka besaran insentif yang diperoleh akan disesuaikan dengan presentasenya.

Ketetapan harga jual sentrum terebut tertuang dalam Peraturan Menteri  ESDM Nomor 17 Tahun 2013 tentang Pembelian Tenaga Listrik oleh PLN dari PLTS Fotovoltaik. (NK/KTN)

 

*Sumber: energitoday.com

*Peraturan menteri terkait bisa diunduh di http://prokum.esdm.go.id/permen/2013/Permen%20ESDM%2017%202013.pdf

Penjualan modul surya di Jepang meningkat pesat sejak diberlakukan skema subsidi FIT

Sejak pemberlakuan skema subsidi FIT di Jepang mulai Juli 2012 yang lalu, dimana perusahaan listrik negara diharuskan membeli listrik yang dihasilkan oleh modul surya konsumen pada harga yang telah ditentukan, penjualan modul surya terus meningkat pesat dan tahun 2013 ini peningkatannya mencapai lebih dari dua kali lipat di banding tahun 2012.

Skema subsidi ini dilakukan oleh pemerintah Jepang setelah tragedi di Fukushima, untuk mendorong pemakaian energi alternatif sebagai sala satu cara mengurangi kebergantungan Jepang terhadap energi nuklir.

Tabel dibawah menunjukan akumulasi  penjualan modul surya dalam MW per tiga bulan. Angka yang ada didalam kurung menunjukan besarnya prosentase perubahan dibanding tahun lalu.

 

—————————————————Jan-Mar 2013    Oct-Dec 2012  July-Sept 2012  Apr-June 2012

Sel surya lokal                     882 (+202.1)         662 (+113.7)     424  (+50.7)      313  (+43.5)

Sel surya impor                  852 (+757.7)        342 (+253.5)     203 (+206.7)     132 (+228.2)

Penjualan dalam negeri  1,734 (+342.9)    1,003 (+146.9)   627  (+80.3)     445  (+72.2)

Penjualan luar negeri            130 (-20.2)        111  (-65.6)        153  (-57.3)      168  (-61.7)

*Sumber: http://www.reuters.com/article/2013/06/03/energy-japan-solar-idUSL3N0EC2LS20130603

Kombinasi Teknologi Fotovoltaik dan Batere Mulai Digunakan Sebagai Salah Satu Solusi Menurunkan Konsumsi dan Tagihan Listrik di Jepang

Beberapa bulan lagi sekitar bulan Juni-Agustus, Jepang akan mengalami musim panas. Sudah menjadi tradisi bahwa konsumsi listrik pada musim panas akan meningkat secara tajam terutama karena kebutuhan penggunaan air conditioner diberbagai tempat, baik rumah, kantor, mall, bahkan di kereta sekalipun. Dengan di non-aktifkannya beberapa reaktor nuklir akibat bencana Fukushima, pemerintah Jepang harus mencari cara untuk mensuplai kebutuhan listrik yang tinggi ini dengan memerhatikan keamanan masyarakat tapi juga suplai yang stabil. Kombinasi antara sistem fotovoltaik dan teknologi batere menjadi sangat menarik karena batere bisa menyimpan listrik yang dihasilkan oleh fotovoltaik pada waktu siang hari, dan ketika matahari sudah tenggelam listrik yang tersimpan bisa digunakan. Menjadi lebih menarik lagi krena di Jepang sistem ini sudah terintegrasi dengan jaringan listrik nasional, sehingga listrik dari jaringan bisa disimpan dibatere disamping memaksimalkan sistem Feed-In-Tariff (FIT) nasional sehingga tagihan listrik konsumen bisa ditekan.

Tarif listrik di Jepang menggunakan sistem Time-of-Use (TOU), yaitu sistem tarif yang berbeda tergantung waktu, berbeda dengan sistem tarif konvensional yang flat sepanjang waktu. Gambar 1 dibawah menunjukan tarif (TOU) dari Tokyo Electric Power Company (TEPCO) dan juga FIT untuk rumah yang memasang sistem fotovoltaik. Dengan skema tersebut, konsumen bisa mengurangi tagihan listrik mereka dengan strategi seperti berikut,

  • Membeli dan menyimpan listrik dari jaringan pada jam-jam off-peak (11 pm – 7 am) seharga ¥11.82/kWh [US $0.12]
  • Menjual listrik yang dihasilkan dari fotovoltaik ke jaringan dengan tarif FIT seharga ¥38.0/kWh [US $0.38]
  • Menggunakan listrik dari fotovoltaik pada siang hari, jikta tidak membayar  ¥30.77 (10 am – 5 pm) [US $0.31] dan menggunakan listrik yang tersimpan di batere antara jam 7 sampai jam 10 am dan antara jam 5 sampai jam 11 , jika tidak membayar ¥25.2/kWh [US $0.25

Dengan sistem ini, konsumen bisa membli listrik pada saat harga terendah, dan juga bisa menjual pada harga tertinggi. Strategi ini diilustrasikan pada Gambar 2.

1-large-fighting-blackouts-japan-residential-pv-and-energy-storage-market-flourishing

Gambar 1. Tarif listrik TEPCO dan juga FIT dalam fungsi waktu

2-large-fighting-blackouts-japan-residential-pv-and-energy-storage-market-flourishing

Gambar 2. Strategi penghematan tagihan listrik dengan menggunakan kombinasi sistem PV dan batere

Untuk mensokong hal ini, para produsen fotovoltaik di Jepang seperti Panasonic, Kyocera, dan Sharp mulai menawarkan paket lithium-ion batere dengan modul fotovoltaik. Sebagai contoh Kyocera telah merilis lithium-ion batere untuk home konsumen terbesar di Jepang dengan kapasitas 14.4 kWH yang dijual seharga ¥4.45million [US $43,784], yang memungkinkan suplai listrik ke alat-alat elektronik seperti kulkas, TV, komputer sampai 24 jam. Untuk mendistribusikan produknya ini, mereka berkerja sama dengan Rakuten, yang merupkan situs belanja online terbesar di Jepang, dan menawarkan paket polycrystalline silikon fotovoltaik dan lithium battery pada harga yang relatif terjangkau. Mereka menawarkan beberapa paket tergantung dari kapasitasnya mulai dari harga ¥2.94 million ($29,730)  dengan sistem 2.28 kW sampai ¥4.168 million ($42,153) dengan sistem 6.27-kW .

Untuk mengatasi biaya investasi yang besar diawal oleh konsumen, salah satu perusahaan yaitu One Energy Corp. juga menawarkan pembelian angsuran perbulan dari mulai ¥3,045 ($31) sampai ¥5,145 ($52) perbulan dengan biaya gratis diawal (zero upfront payment).

Skema penghematan listrik dengan cara kombinasi fotovoltaik dan batere ini menunjukan bahwa dengan regulasi dan dukunganyang baik dari pemerintah, win-win solution bisa didapatkan dari pihak konsumen maupun produsen.

*Sumber: diadaptasi dan diterjemahkan secara bebas dari http://www.renewableenergyworld.com/rea/news/article/2013/05/fighting-blackouts-japan-residential-pv-and-energy-storage-market-flourishing?cmpid=WNL-Wednesday-May15-2013

Pemerintah Sepakati Harga Listrik Tenaga Matahari

Sumber:Antara Foto

Sumber:Antara Foto

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah akhirnya menetapkan harga pembelian listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Listrik dari energi matahari itu disepakati akan dibeli PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 25 sen dolar AS per kilowatt hour (kWh).

Keputusan feed in tariff (FIT) PLTS ini diketok dalam rapat koordinasi dengan Kementerian Perekonomian. “Harga ini sesuai dengan usulan kami,” kata Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana pada Republika, Ahad (10/3).

Aturan resmi yang mengatur ketatapan tarif ini bakal segera diterbitkan. Ia menuturkan kemungkinan besar aturan terbit akhir Maret mendatang.

Menurutnya, tarif ini akan berlaku tetap hingga masa kontrak 20 tahun setelah perjanjian jual beli listrik antara PLN dan produsen ditandatangani. Bisa saja harga turun secara bertahap setelah perjanjian berakhir.

Penetapan FIT PLTS dilakukan guna mendukung program bauran energi untuk membangkitkan listrik. Penggunaan BBM sebagai energi pembangkit listrik membuat anggaran yang dikeluarkan melonjak mengingat harga minyak terus naik.

Harga minyak yang mencapai 100 dolar AS lebih, membuat biaya yang dikeluarkan terus melonjak. Dari data Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di 2009 hingga 2010 misalnya, inefisiensi PLN akibat penggunaan BBM mencapai Rp 37,6 triliun.

Kepala Divisi Energi Terbarukan PLN Mochammad Sofyan menegaskan perusahaan siap membeli listrik surya sesuai dengan harga yang dibuat pemerintah. “FIT adalah penugasan. Jadi harus diikuti,” katanya.

Ia pun memandang dari segi tarif, penetapan 25 sen dolar AS lebih murah, dibanding pembelian listrik dari diesel (BBM). Di mana harganya bisa mencapai 35 hingga 40 sen dolar AS.

Namun ia menekankan soal stabilitas pasokan yang harus benar-benar dijaga. “Karena PLTS ini keandalannya juga tergantung dengan grid PLN. Harus cari lokasi yang terdekat dengan transmisi PLN,” jelasnya.

Hingga kini, porsi energi baru terbarukan sebagai energi pembangkit listrik PLN masih minim. Di 2012 lalu, energi pembangkit listrik dari energi terbarukan hanya berasal dari dua komponen. Yakni panas bumi dengan kontribusi lima persen dan air enam persen.

Sedangkan sisanya masih berasal dari energi non-terbarukan. BBM misalnya mendominasi hingga 15 persen sementara gas 24 persen dan batu bara 50 persen.

Di 2013 ini pun, komposisi energi terbarukan tak begitu signifikan. Malah panas bumi dan air hanya ditargetkan lima persen. Sisanya BBM 10 persen, gas 23 persen serta batu bara 57 persen.

%d blogger menyukai ini: