Arsip Blog

RI Lelang Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya di 80 Lokasi

Liputan6.com, Jakarta : Pemerintah akan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di 80 lokasi yang tersebar di Tanah Air. Proyek itu ditargetkan bisa menghasilkan listrik 140 megawatt peak (MWp).

“Dari kapasitas 140 MWp tersebut pengembangan kapasitas di setiap daerah berbeda, minimum 1 MWp bahkan ada yang 8 MWp,”ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Rida Mulyana seperti dikutip dari situs Ditjen EBTKE, Kamis (22/8/2013).

Rida menjelaskan, 80 lokasi dengan total kapasitas 140 MWp yang akan dilelang tersebut merupakan sebagai pelaksanaan dari peraturan menteri (Permen) ESDM nomor 17 tahun 2013 yang mengatur pembelian tenaga listrik berbasis tenaga surya fotovoltaik oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero).

Dalam regulasi yang ditandatangani Menteri ESDM, Jero Wacik pada 12 Juni 2013, ditetapkan harga patokan tertinggi pembelian tenaga listrik dari PLTS fotovoltaik oleh PLN yaitu US$ 25 sen per kilowatthour (kWh).

Namun akan ada insentif dan ditetapkan dengan harga patokan tertinggi sebesar US$ 30 per kWh dengan catatan PLTS fotovoltaik menggunakan modul fotovoltaik dengan tingkat komponen dalam negeri sekurang-kurangnya 40%. Ketentuan mengenai tingkat komponen dalam negeri dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (Pew/Ndw)

 

*Sumber: liputan6.com

Iklan

Dana Subsidi BBM Harusnya Untuk Kembangkan Energi Matahari

Detik Finance – Guna memenuhi energi baru yang bersih di masa mendatang, sebaiknya negara-negara di Asia harus mengalihkan dana subsidi bahan bakar minyak (BBM) kepada investasi energi baru yang bersih seperti energi matahari.

“Ada baiknya dana subsidi untuk energi dari fosil (BBM), dialihkan untuk mengembangkan teknologi energi matahari,” kata Alexander Lenz, Presiden Conergy untuk Asia Tenggara dan Timur Tengah, saat diwawancarai detikFinance dan koran Metro dari Malaysia, di sela-sela acara Clean Energy Expo Asia yang digelar di Suntec International Convention & Exhibition Centre, Singapura, Selasa (1/11/2011).

Diakui Lenz, pengembangan teknologi energi matahari saat ini biayanya cukup tinggi. “Tapi energi matahari sangat ramah lingkungan, dan di Asia Tenggara sangat kaya dengan energi matahari,” ujarnya.

Namun, jika semua pihak mendukung pengembangan teknologi energi matahari, dia yakin di masa mendatang, biaya pengonsumsi energi ini seperti listrik akan sama dengan pengonsumsi listrik dari energi tradisional atau fosil yang tidak ramah lingkungan.

Salah satu proyek yang dikerjakan Conergy bersama Thailand, yakni sebuah taman surya di Ayutthaya, sekitar 70 kilometer utara Bangkok.

Taman ini terdiri dari 40.000 modul surya. Taman surya ini menyuplai listrik bagi 1.530 rumah dengan potensi produksi sampai 4.471 megawatt (MW) per jam setiap tahun, di samping menghemat 1.970 ton emisi karbon per tahunnya.

Selain Thailand, jelas Lenz, Malaysia dan Filipina juga tertarik mengembangkan teknologi energi matahari. Tiga tahun ke depan, Filipina akan menyelesaikan instalasi antara 50-100 MW kapasitas tenaga matahari. Bahkan di Departemen Energi Filipina telah masuk 537 MW proposal untuk pabrik surya.

Sementara Malaysia menargetkan memasang 29 MW instalasi matahari yang dimulai tahun ini dan 46 MW tahun depan.

Syarat dari pengembangan teknologi energi matahari dari investor, kata Lenz, yakni mekanismefeed-in tariff (FiT), tax holiday perusahaan, pembebasan bea cukai dan pajak, serta garansi akses ke jaringan listrik.

“Namun kuncinya ada pada sistem insentif FiT. Dengan kebijakan ini, produsen energi mendapatkan sejumlah insentif untuk periode 10-20 tahun untuk setiap kilowatt-jam (kWh) listrik yang mereka hasilkan dari sumber energi terbarukan yang tersambung ke jaringan listrik nasional,” ujarnya.

Misalnya Thailand menerapkan kebijakan yang mana mereka membayar tambahan 6,5 baht/kWh (US$ 0,22) kepada para pembangkit tenaga surya, di atas tarif listrik nasional. Malaysia pun berencana menetapkan tarif antara RM 0,85 atau RM 0,95 per KWh (US$ 0,32) untuk sistem dengan skala megawatt, dan sampai RM 1,23 per kWh (US$ 0,41) untuk sistem berskala kecil.

Bagaimana dengan Indonesia? Diinformasikan Lenz, pemerintah Indonesia mengembangkan program menginstalasi pembangkit listrik tenaga matahari yang terhubung jaringan listrik di 100 pulau kecil, yang kemudian dikembangkan menjadi 1.000 pulau. Dalam pengembangan ini Indonesia tidak menerapkan kebijakan feed-in-tariff.

Sementara total biaya yang akan dikerjakan PLN itu sebesar Rp 900 miliar. PLN juga akan menyediakan sistem tenaga matahari kecil di pedesaan Indonesia Timur bagi 340.000 dengan total investasi Rp. 1.2 trilliun.

 

*Sumber : detikfinance

Asia tenggara merangkul energi surya (part 2)

Keselamatan yang utama

Keselamatan dalam pembangkit energi sangatlah penting, dan dengan regulasi yang ketat dan instalasi yang profesional, pembangkit tenaga surya hampir bebas resiko, tidak seperti bahan bakar fosil atau pembangkit energi nuklir. Sejarah terkini juga menunjukan bahwa fasilitas pembangkit energi sangat rawan terhadap bencana.

Salah satu investasi di negara Thailand yang sangat berpikir maju dalam pembangkit tenaga surya adalah proyek taman surya (Solar park) Sai Sena Solarta 3MW di Ayutthaya, 70 km utara Bangkok. Taman surya ini memproduksi cukup energi untuk 1.530 rumah dengan potensi produksi sampai 4.471 megawatt-jam energi bersih tiap tahun, disamping menghemat 1.970 ton emisi karbon per tahunnya.

Solar Park di Ayyuthaya, Thailand (photo:Conergy)

Proyek Tenaga Surya Thailand

Proyek tenaga surya ini, yang merupakan rumah dari 40.000 modul surya, menunjukkan masa depan dari pembangkit tenaga surya di Thailand dan menjadi model ikubator untuk potensi investasi diseluruh area.

Taman ini diprediksi akan menghasilkan investasi kembali sebanyak dua-digit dalam periode 25 tahun, dan telah mengungguli produksi energi yang diharapkan sampai sekarang. Daya yang dihasilkan dari taman tersebut, yang merupakan milik swasta, disalurkan ke jaringan listrik utama dari Thailand Provincial Electricity Authority (PEA).

Solarta sekarang sedang mengembangkan lebih banyak taman energi surya di Thailand. Taman kedua dengan daya 12.4 MW sekarang sedang dalam pembangunan di provinsi Nakhon Pathom, yang akan menjadi empat kali lebih besar daripada taman pertama.

Biaya Sebenarnya

Salah satu aspek yang paling penting dengan peluncuran proyek taman surya ini adalah bukti bahwa investor di pasar pembangkit energi, yang dipimpin oleh wiraswasta dan perusahaan publik, mulai mengerti bahwa biaya sebenarnya untuk untuk membangkitkan daya harus dihitung berdasarkan pada biaya yang dikeluarkan per unit listrik. Ini dihitung dalam kWh (kilowatt-hour, bukan dalam biaya per unit kapasitas yang terinstall yang dihitung dalam Wp (watt-peak).

Kualitas dari komponen panel surya, inverter, dan sistem instalasi juga merupakan kunci dari investasi kembali untuk jangka panjang.  Hal tersebut, dibarengi dengan pemilihan infrastruktur instalasi yang terbaik dan perhatian yang ketat terhadap desain pabrik dan juga engineeringnya, akan menentukan efektivitas dari kemampuan pembangkitan daya. Simpelnya, panel surya yang lebih murah dan infrastruktur dibawah standar akan menghasilkan penghematan biaya jangka pendek, namun dalam jangka waktu menengah sampai panjang, kualita dari panel, inverter dan infrastruktur penunjang lainnya akan mempengaruhi kualitas dan konsistensi dari kembalinya investasi.

Faktor lainnnya yang harus dipertimbangkan ketika berinvestasi jangka panjang dalam pembangkit tenaga surya adalah resiko. Sangatlah penting untuk mengelola resiko untuk melindungi investasi, dan ini dapat dilakukan dengan mengambil asuransi yang mencakup kerusakan akibat banjir, topan, dll, dan juga gangguan terhadap bisnis akibat faktor sosial ataupun intensitas matahari rendah yang berkepanjangan, yang berpengaruh terhadap output dan juga profit dari bisnis.

Potensi hambatan

Potensi pertumbuhan energi surya dapat direalisasikan secara maksimal hanya jika langkah-langkah penting berkaitan dengan infrastruktur pembangkit energi yang lebih luas mulai dilakukan. Pengembangan ke fotovoltaik dan energi terbarukan akan membutuhkan perubahan infrastruktur, karena hampir semua jaringan energi di Asia Tenggara didesain terutama untuk sistem energi terpusat. Penambahan dari penyaluran melalui energi surya ini harus diakomodasi dan diintegrasikan ke jaringan listrik.

Tantangan yang juga dihadapi oleh industri surya adalah pandangan akan mahalnya energi surya.  Untuk alasan ini, pendorong utama untuk turunnya biaya adalah usaha yang permanen. Industri telah menurunkan biaya sampai antara 15 dan 2- persen per tahun rata-rata dalam 10 tahun ini.

Grid parity (Kesamaan dengan jaringan listrik)

R&D yang dilakukan industri juga bertujuan untuk meningkatkan efisiensi modul dan lebih mempercepat penurunan harga. Dengan semua usaha ini, grid parity- poin dimana listrik dari pembangkit tenaga surya mempunyai harga yang sama dengan tarif listrik perumahan- dapat dicapai dalam beberapa tahun kedepan, terutama di pasar Asia dengan harga listrik yang relatif tinggi.

Lebih jauh lagi, perluasan ke energi terbarukan dapat meminimalkan efek negara terhadap fluktuasi harga minyak dunia dan juga terhadap kelangkaan energi secara umum. Uang harus diinvestasikan untuk membuat pabrik energi terbarukan, tetapi keuntungannya lebih besar dibanding uang yang dikeluarkan dalam jangka panjang.

Masa Depan adalah energi hijau

Walaupun negara-negara di Asia Tenggara masih akan tergantung terhadap bahan bakar fosil untuk memenuhi mayoritas kebutuhan energinya dalam jangka pendek ini, energi hijau dari pembangkit energi terbarukan telah semakin meningkat kepentingannya dalam perencanaan untuk kebutuhan masa depan dan juga pembangunan

Investor dan konsumen semakin menyadari kebutuhan untuk menjaga lingkungan dan bertahap berpindah dari kebergantungan bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik. Artinya, entrepreneur mempunyai ksempatan untuk menawarkan investor pilihan untuk lingkungan yang berbasis energi hijau, baik itu dalam bisnins perdagangan, indsutri perkebunan maupun perumahan.

*Sumber : http://www.siew.sg/energy-perspectives/alternative-energies/southeast-asia-embraces-solar-power

Asia tenggara merangkul tenaga surya (part 1)

Saya menemukan tulisan yang menarik tentang perkembangan pengaplikasian energi surya di Asia Tenggara, yang ditulis oleh Alexander Lenz, presiden dari Conergy Southeast asia dan Middle East yang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di energi surya. Beliau memaparkan kebijakan-kebijakan yang diambil negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia untuk meningkatkan penggunaan energi surya. Menarik untuk mencermati opini dari “pihak luar”, dan bisa dijadikan bahan evaluasi. Saya terjemahkan secara bebas tulisan beliau dibawah.

Sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia mulai mengambil langkah untuk berinvestasi skala besar dalam tenaga surya. Dengan cahaya matahari yang melimpah setiap hari, investor-investor tenaga surya di Asia Tenggara tergaransi akan kekonsistenan dan kembalinya investasi mereka, disamping berkontribusi positif dalam kelestarian lingkungan melalui penggantian energi fosil untuk sumber energi dengan teknologi surya yang terbarukan.

Bahkan ketika cuaca mendung, khususnya pada musim hujan, teknologi terbaru dari fotovoltaik menjamin pengguna dapat bergantung pada energi surya 365 hari setahun untuk mensuplai kebutuhan energi. Dan juga, dengan semakin berkembangnya  penggunaan ladang tenaga surya (solar power farms), dapat berkontribusi dalam pembangkitan listrik untuk distribusi melalui jaringan listrik nasional.

Hal ini didorong terutama oleh insentif pemerintah yang progresif  untuk berinvestasi dan menggunakan instalasi tenaga surya, banyaknya pengusaha, lembaga negara dan individual dalam menetapkan standar-standar untuk industri, didalam maupun luar negeri.

Kuncinya adalah Feed-in tariff

Insentif dari pemerintah umumnya termasuk mekanisme feed-in tariff (FiT), tax holiday perusahaan, pembebasan bea cukai dan pajak, dan garansi akses ke jaringan listrik. Namun, kuncinya ada pada sistem insentif FiT. Dengan kebijakan ini, produsen energi mendapatkan sejumlah insentif untuk periode 10 sampai 20 tahun untuk setiap kilowatt-jam (kWh) listrik yang mereka hasilkan dari sumber energi terbarukan yang tersambung ke jaringan listrik nasional.

Sebagai contoh, Thailand menerapkan kebijakan dimana mereka membayar tambahan 6.5 baht/kWh (~0.22 USD) kepada para pembangkit tenaga surya, diatas tarif listrik nasional. Malaysia juga berencana untuk menetapkan tarif antara RM0.85 atau RM0.95 per KWh (~0.32 USD) untuk sistem dengan skala megawatt, dan sampai RM1.23 per kWh (~0.41 USD) untuk sistem berskala kecil. Sementara itu, tarif sebesar 17.95 peso per kWh (~0.42 USD) sekarang sedang dalam pembahasan akhir di Filipina.  Malaysia dan Filipina diprediksi akan mengimplementasikan program FiT tahun ini.

Respon Baik

Pasar merespon dengan sangat baik dengan adanya insentif-insentif ini. Sampai sekarang, Kementrian Energi Thailand telah menerima aplikasi untuk lebih dari 3 gigawatt pabrik energi surya, jumlah ini 6 kali lipat dari target nasional Thailand untuk energi surya.

Dalam tiga tahun kedepan, Filipina akan menyelesaikan target instalasi antara 50 dan 100 megawatt (MW) kapasitas tenaga surya, disamping  537 MW proposal untuk pabrik surya yang telah masuk ke Departemen Energi Filipina.

Malaysia juga mempunyai target untuk menginstall 29 MW instalasi surya yang dimulai tahun ini dan 46 MW tahun depan. Melihat dari antusiasme berdasarkan forum publik yang belum lama ini dilaksanakan,penerapan energi surya di Malaysia diprediksi akan melebihi target ini.

Dipihak lain, Indonesia mengambil jalan yang agak berbeda. Walaupun dengan ketidakadaan kebijakan feed-in-tariff nasional, pemerintah, melalui perusahaan listrik nasional PT PLN, mengumumkan tahun ini akan menginstalasi pembangklit listrik tenaga surya yang terhubung jaringan listrik di 100 pulau-pulau kecil dan  1000 pulau lainnya pada tahun berikutnya.

Untuk program 100 pulau, PT PLN diprediksi akan meginvestasikan sekitar Rp 9 miliar untuk membangun pembangkit surya disetiap pulau, sehingga membutuhkan total investasi sekitar Rp 900 miliar untuk seluruh proyek. Disamping program 100 dan 1000 pulau, PT PLN telah mengumumkan akan menyediakan 340,000  rumah di pedesaan timur Indonesia dengan sistem tenga surya skala kecil, dengan total investasi sekitar Rp 1.2 triliun .

(Bersambung ke part 2)

*Sumber : http://www.siew.sg/energy-perspectives/alternative-energies/southeast-asia-embraces-solar-power

%d blogger menyukai ini: