Arsip Blog

PLN Barter Listrik dengan Pelanggan Tenaga Surya

Metrotvnews.com, Jakarta: PT PLN (Persero) siap menerima kelebihan energi listrik yang dihasilkan pelanggan pengguna panel surya dengan menerapkan sistem ekspor-impor. Sistem ini dilakukan PLN kepada pelanggan pengguna panel surya sebagai upaya mendorong percepatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).

Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwiyanto menjelaskan untuk pelanggan PLN yang menggunakan panel surya, PLN akan memasang meter listrik ekspor-impor. “Pengiriman kelebihan listrik dapat terjadi karena pelanggan memiliki dua sumber pasokan listrik, dari panel surya dan dari PLN,” ujar Bambang dalam siarang pers yang diterimaMedia Indonesia, Kamis (21/11).

Energi listrik yang diterima PLN dari panel surya akan di-offset oleh PLN dengan energi listrik yang dikirim PLN ke pelanggan. “Bila listrik yang diterima PLN dari panel surya lebih besar dari listrik yang dikirim PLN, selisihnya menjadi deposit listrik yang akan diperhitungkan untuk pemakaian listrik bulan-bulan berikutnya.” kata dia.

Selain untuk mendorong pemanfaatan EBT, sistem ekspor-impor listrik juga bermanfaat menambah kapasitas pasokan listrik kepada pelanggan. “Hingga saat ini sudah ada beberapa pelanggan yang memanfaatkan panel surya dan melakukan barter energi listrik dengan PLN,” cetusnya.

Para pelangan PLN yang memasang panel surya di bangunan miliknya untuk memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri selain dari PLN dapat menggunakan energi listrik yang dihasilkan dari panel surya tersebut secara pararel dengan pasokan listrik dari PLN. Misalnya, dari pukul 07.30 hingga 17.00 pelangan menggunakan listrik dari panel surya miliknya. Kemudian sore, malam, dan menjelang pagi, pelanggan beralih menggunakan listrik dari PLN. (Ayomi Amindoni)

 

*Sumber: Metrotvnews

Pemerintah Tetapkan Harga Listrik PLTS US$ 0,25 per Kwh

Jakarta,EnergiToday—Pemerintah merilis belied baru terkait kewajiban PLN membeli listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Fotovoltaik milik swasta.

Harga jual sentrum tertinggi yang ditetapkan US$ 0,25 per kilowatt hours (kwh) ditambah insentif US$ 0,05 per kwh.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi terbarukan Kementerian ESDM Alihuddin Sitompul menjelaskan, investor PLTS dapat memperoleh harga jual listrik dengan total US$ 0,3 per kwh apabila telah memenuhi syarat dengan memenuhi tingkat kandungan dalam negeri sebesar 40%.

“Jika komponen utama seperti Fotovoltaik atau modul surya, inverter, dan controller seluruhnya diimpor, harga maksimalnya sebesar US$ 0,25 per kwh,” katanya kepada Kontan, Senin (24/6).

Menurut dia, apabila investor hanya mampu memenuhi kandungan kurang dari 40%, maka besaran insentif yang diperoleh akan disesuaikan dengan presentasenya.

Ketetapan harga jual sentrum terebut tertuang dalam Peraturan Menteri  ESDM Nomor 17 Tahun 2013 tentang Pembelian Tenaga Listrik oleh PLN dari PLTS Fotovoltaik. (NK/KTN)

 

*Sumber: energitoday.com

*Peraturan menteri terkait bisa diunduh di http://prokum.esdm.go.id/permen/2013/Permen%20ESDM%2017%202013.pdf

Penjualan modul surya di Jepang meningkat pesat sejak diberlakukan skema subsidi FIT

Sejak pemberlakuan skema subsidi FIT di Jepang mulai Juli 2012 yang lalu, dimana perusahaan listrik negara diharuskan membeli listrik yang dihasilkan oleh modul surya konsumen pada harga yang telah ditentukan, penjualan modul surya terus meningkat pesat dan tahun 2013 ini peningkatannya mencapai lebih dari dua kali lipat di banding tahun 2012.

Skema subsidi ini dilakukan oleh pemerintah Jepang setelah tragedi di Fukushima, untuk mendorong pemakaian energi alternatif sebagai sala satu cara mengurangi kebergantungan Jepang terhadap energi nuklir.

Tabel dibawah menunjukan akumulasi  penjualan modul surya dalam MW per tiga bulan. Angka yang ada didalam kurung menunjukan besarnya prosentase perubahan dibanding tahun lalu.

 

—————————————————Jan-Mar 2013    Oct-Dec 2012  July-Sept 2012  Apr-June 2012

Sel surya lokal                     882 (+202.1)         662 (+113.7)     424  (+50.7)      313  (+43.5)

Sel surya impor                  852 (+757.7)        342 (+253.5)     203 (+206.7)     132 (+228.2)

Penjualan dalam negeri  1,734 (+342.9)    1,003 (+146.9)   627  (+80.3)     445  (+72.2)

Penjualan luar negeri            130 (-20.2)        111  (-65.6)        153  (-57.3)      168  (-61.7)

*Sumber: http://www.reuters.com/article/2013/06/03/energy-japan-solar-idUSL3N0EC2LS20130603

Kombinasi Teknologi Fotovoltaik dan Batere Mulai Digunakan Sebagai Salah Satu Solusi Menurunkan Konsumsi dan Tagihan Listrik di Jepang

Beberapa bulan lagi sekitar bulan Juni-Agustus, Jepang akan mengalami musim panas. Sudah menjadi tradisi bahwa konsumsi listrik pada musim panas akan meningkat secara tajam terutama karena kebutuhan penggunaan air conditioner diberbagai tempat, baik rumah, kantor, mall, bahkan di kereta sekalipun. Dengan di non-aktifkannya beberapa reaktor nuklir akibat bencana Fukushima, pemerintah Jepang harus mencari cara untuk mensuplai kebutuhan listrik yang tinggi ini dengan memerhatikan keamanan masyarakat tapi juga suplai yang stabil. Kombinasi antara sistem fotovoltaik dan teknologi batere menjadi sangat menarik karena batere bisa menyimpan listrik yang dihasilkan oleh fotovoltaik pada waktu siang hari, dan ketika matahari sudah tenggelam listrik yang tersimpan bisa digunakan. Menjadi lebih menarik lagi krena di Jepang sistem ini sudah terintegrasi dengan jaringan listrik nasional, sehingga listrik dari jaringan bisa disimpan dibatere disamping memaksimalkan sistem Feed-In-Tariff (FIT) nasional sehingga tagihan listrik konsumen bisa ditekan.

Tarif listrik di Jepang menggunakan sistem Time-of-Use (TOU), yaitu sistem tarif yang berbeda tergantung waktu, berbeda dengan sistem tarif konvensional yang flat sepanjang waktu. Gambar 1 dibawah menunjukan tarif (TOU) dari Tokyo Electric Power Company (TEPCO) dan juga FIT untuk rumah yang memasang sistem fotovoltaik. Dengan skema tersebut, konsumen bisa mengurangi tagihan listrik mereka dengan strategi seperti berikut,

  • Membeli dan menyimpan listrik dari jaringan pada jam-jam off-peak (11 pm – 7 am) seharga ¥11.82/kWh [US $0.12]
  • Menjual listrik yang dihasilkan dari fotovoltaik ke jaringan dengan tarif FIT seharga ¥38.0/kWh [US $0.38]
  • Menggunakan listrik dari fotovoltaik pada siang hari, jikta tidak membayar  ¥30.77 (10 am – 5 pm) [US $0.31] dan menggunakan listrik yang tersimpan di batere antara jam 7 sampai jam 10 am dan antara jam 5 sampai jam 11 , jika tidak membayar ¥25.2/kWh [US $0.25

Dengan sistem ini, konsumen bisa membli listrik pada saat harga terendah, dan juga bisa menjual pada harga tertinggi. Strategi ini diilustrasikan pada Gambar 2.

1-large-fighting-blackouts-japan-residential-pv-and-energy-storage-market-flourishing

Gambar 1. Tarif listrik TEPCO dan juga FIT dalam fungsi waktu

2-large-fighting-blackouts-japan-residential-pv-and-energy-storage-market-flourishing

Gambar 2. Strategi penghematan tagihan listrik dengan menggunakan kombinasi sistem PV dan batere

Untuk mensokong hal ini, para produsen fotovoltaik di Jepang seperti Panasonic, Kyocera, dan Sharp mulai menawarkan paket lithium-ion batere dengan modul fotovoltaik. Sebagai contoh Kyocera telah merilis lithium-ion batere untuk home konsumen terbesar di Jepang dengan kapasitas 14.4 kWH yang dijual seharga ¥4.45million [US $43,784], yang memungkinkan suplai listrik ke alat-alat elektronik seperti kulkas, TV, komputer sampai 24 jam. Untuk mendistribusikan produknya ini, mereka berkerja sama dengan Rakuten, yang merupkan situs belanja online terbesar di Jepang, dan menawarkan paket polycrystalline silikon fotovoltaik dan lithium battery pada harga yang relatif terjangkau. Mereka menawarkan beberapa paket tergantung dari kapasitasnya mulai dari harga ¥2.94 million ($29,730)  dengan sistem 2.28 kW sampai ¥4.168 million ($42,153) dengan sistem 6.27-kW .

Untuk mengatasi biaya investasi yang besar diawal oleh konsumen, salah satu perusahaan yaitu One Energy Corp. juga menawarkan pembelian angsuran perbulan dari mulai ¥3,045 ($31) sampai ¥5,145 ($52) perbulan dengan biaya gratis diawal (zero upfront payment).

Skema penghematan listrik dengan cara kombinasi fotovoltaik dan batere ini menunjukan bahwa dengan regulasi dan dukunganyang baik dari pemerintah, win-win solution bisa didapatkan dari pihak konsumen maupun produsen.

*Sumber: diadaptasi dan diterjemahkan secara bebas dari http://www.renewableenergyworld.com/rea/news/article/2013/05/fighting-blackouts-japan-residential-pv-and-energy-storage-market-flourishing?cmpid=WNL-Wednesday-May15-2013

Pemerintah Sepakati Harga Listrik Tenaga Matahari

Sumber:Antara Foto

Sumber:Antara Foto

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah akhirnya menetapkan harga pembelian listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Listrik dari energi matahari itu disepakati akan dibeli PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 25 sen dolar AS per kilowatt hour (kWh).

Keputusan feed in tariff (FIT) PLTS ini diketok dalam rapat koordinasi dengan Kementerian Perekonomian. “Harga ini sesuai dengan usulan kami,” kata Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana pada Republika, Ahad (10/3).

Aturan resmi yang mengatur ketatapan tarif ini bakal segera diterbitkan. Ia menuturkan kemungkinan besar aturan terbit akhir Maret mendatang.

Menurutnya, tarif ini akan berlaku tetap hingga masa kontrak 20 tahun setelah perjanjian jual beli listrik antara PLN dan produsen ditandatangani. Bisa saja harga turun secara bertahap setelah perjanjian berakhir.

Penetapan FIT PLTS dilakukan guna mendukung program bauran energi untuk membangkitkan listrik. Penggunaan BBM sebagai energi pembangkit listrik membuat anggaran yang dikeluarkan melonjak mengingat harga minyak terus naik.

Harga minyak yang mencapai 100 dolar AS lebih, membuat biaya yang dikeluarkan terus melonjak. Dari data Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di 2009 hingga 2010 misalnya, inefisiensi PLN akibat penggunaan BBM mencapai Rp 37,6 triliun.

Kepala Divisi Energi Terbarukan PLN Mochammad Sofyan menegaskan perusahaan siap membeli listrik surya sesuai dengan harga yang dibuat pemerintah. “FIT adalah penugasan. Jadi harus diikuti,” katanya.

Ia pun memandang dari segi tarif, penetapan 25 sen dolar AS lebih murah, dibanding pembelian listrik dari diesel (BBM). Di mana harganya bisa mencapai 35 hingga 40 sen dolar AS.

Namun ia menekankan soal stabilitas pasokan yang harus benar-benar dijaga. “Karena PLTS ini keandalannya juga tergantung dengan grid PLN. Harus cari lokasi yang terdekat dengan transmisi PLN,” jelasnya.

Hingga kini, porsi energi baru terbarukan sebagai energi pembangkit listrik PLN masih minim. Di 2012 lalu, energi pembangkit listrik dari energi terbarukan hanya berasal dari dua komponen. Yakni panas bumi dengan kontribusi lima persen dan air enam persen.

Sedangkan sisanya masih berasal dari energi non-terbarukan. BBM misalnya mendominasi hingga 15 persen sementara gas 24 persen dan batu bara 50 persen.

Di 2013 ini pun, komposisi energi terbarukan tak begitu signifikan. Malah panas bumi dan air hanya ditargetkan lima persen. Sisanya BBM 10 persen, gas 23 persen serta batu bara 57 persen.

Dana Subsidi BBM Harusnya Untuk Kembangkan Energi Matahari

Detik Finance – Guna memenuhi energi baru yang bersih di masa mendatang, sebaiknya negara-negara di Asia harus mengalihkan dana subsidi bahan bakar minyak (BBM) kepada investasi energi baru yang bersih seperti energi matahari.

“Ada baiknya dana subsidi untuk energi dari fosil (BBM), dialihkan untuk mengembangkan teknologi energi matahari,” kata Alexander Lenz, Presiden Conergy untuk Asia Tenggara dan Timur Tengah, saat diwawancarai detikFinance dan koran Metro dari Malaysia, di sela-sela acara Clean Energy Expo Asia yang digelar di Suntec International Convention & Exhibition Centre, Singapura, Selasa (1/11/2011).

Diakui Lenz, pengembangan teknologi energi matahari saat ini biayanya cukup tinggi. “Tapi energi matahari sangat ramah lingkungan, dan di Asia Tenggara sangat kaya dengan energi matahari,” ujarnya.

Namun, jika semua pihak mendukung pengembangan teknologi energi matahari, dia yakin di masa mendatang, biaya pengonsumsi energi ini seperti listrik akan sama dengan pengonsumsi listrik dari energi tradisional atau fosil yang tidak ramah lingkungan.

Salah satu proyek yang dikerjakan Conergy bersama Thailand, yakni sebuah taman surya di Ayutthaya, sekitar 70 kilometer utara Bangkok.

Taman ini terdiri dari 40.000 modul surya. Taman surya ini menyuplai listrik bagi 1.530 rumah dengan potensi produksi sampai 4.471 megawatt (MW) per jam setiap tahun, di samping menghemat 1.970 ton emisi karbon per tahunnya.

Selain Thailand, jelas Lenz, Malaysia dan Filipina juga tertarik mengembangkan teknologi energi matahari. Tiga tahun ke depan, Filipina akan menyelesaikan instalasi antara 50-100 MW kapasitas tenaga matahari. Bahkan di Departemen Energi Filipina telah masuk 537 MW proposal untuk pabrik surya.

Sementara Malaysia menargetkan memasang 29 MW instalasi matahari yang dimulai tahun ini dan 46 MW tahun depan.

Syarat dari pengembangan teknologi energi matahari dari investor, kata Lenz, yakni mekanismefeed-in tariff (FiT), tax holiday perusahaan, pembebasan bea cukai dan pajak, serta garansi akses ke jaringan listrik.

“Namun kuncinya ada pada sistem insentif FiT. Dengan kebijakan ini, produsen energi mendapatkan sejumlah insentif untuk periode 10-20 tahun untuk setiap kilowatt-jam (kWh) listrik yang mereka hasilkan dari sumber energi terbarukan yang tersambung ke jaringan listrik nasional,” ujarnya.

Misalnya Thailand menerapkan kebijakan yang mana mereka membayar tambahan 6,5 baht/kWh (US$ 0,22) kepada para pembangkit tenaga surya, di atas tarif listrik nasional. Malaysia pun berencana menetapkan tarif antara RM 0,85 atau RM 0,95 per KWh (US$ 0,32) untuk sistem dengan skala megawatt, dan sampai RM 1,23 per kWh (US$ 0,41) untuk sistem berskala kecil.

Bagaimana dengan Indonesia? Diinformasikan Lenz, pemerintah Indonesia mengembangkan program menginstalasi pembangkit listrik tenaga matahari yang terhubung jaringan listrik di 100 pulau kecil, yang kemudian dikembangkan menjadi 1.000 pulau. Dalam pengembangan ini Indonesia tidak menerapkan kebijakan feed-in-tariff.

Sementara total biaya yang akan dikerjakan PLN itu sebesar Rp 900 miliar. PLN juga akan menyediakan sistem tenaga matahari kecil di pedesaan Indonesia Timur bagi 340.000 dengan total investasi Rp. 1.2 trilliun.

 

*Sumber : detikfinance

%d blogger menyukai ini: