Dana Subsidi BBM Harusnya Untuk Kembangkan Energi Matahari

Detik Finance – Guna memenuhi energi baru yang bersih di masa mendatang, sebaiknya negara-negara di Asia harus mengalihkan dana subsidi bahan bakar minyak (BBM) kepada investasi energi baru yang bersih seperti energi matahari.

“Ada baiknya dana subsidi untuk energi dari fosil (BBM), dialihkan untuk mengembangkan teknologi energi matahari,” kata Alexander Lenz, Presiden Conergy untuk Asia Tenggara dan Timur Tengah, saat diwawancarai detikFinance dan koran Metro dari Malaysia, di sela-sela acara Clean Energy Expo Asia yang digelar di Suntec International Convention & Exhibition Centre, Singapura, Selasa (1/11/2011).

Diakui Lenz, pengembangan teknologi energi matahari saat ini biayanya cukup tinggi. “Tapi energi matahari sangat ramah lingkungan, dan di Asia Tenggara sangat kaya dengan energi matahari,” ujarnya.

Namun, jika semua pihak mendukung pengembangan teknologi energi matahari, dia yakin di masa mendatang, biaya pengonsumsi energi ini seperti listrik akan sama dengan pengonsumsi listrik dari energi tradisional atau fosil yang tidak ramah lingkungan.

Salah satu proyek yang dikerjakan Conergy bersama Thailand, yakni sebuah taman surya di Ayutthaya, sekitar 70 kilometer utara Bangkok.

Taman ini terdiri dari 40.000 modul surya. Taman surya ini menyuplai listrik bagi 1.530 rumah dengan potensi produksi sampai 4.471 megawatt (MW) per jam setiap tahun, di samping menghemat 1.970 ton emisi karbon per tahunnya.

Selain Thailand, jelas Lenz, Malaysia dan Filipina juga tertarik mengembangkan teknologi energi matahari. Tiga tahun ke depan, Filipina akan menyelesaikan instalasi antara 50-100 MW kapasitas tenaga matahari. Bahkan di Departemen Energi Filipina telah masuk 537 MW proposal untuk pabrik surya.

Sementara Malaysia menargetkan memasang 29 MW instalasi matahari yang dimulai tahun ini dan 46 MW tahun depan.

Syarat dari pengembangan teknologi energi matahari dari investor, kata Lenz, yakni mekanismefeed-in tariff (FiT), tax holiday perusahaan, pembebasan bea cukai dan pajak, serta garansi akses ke jaringan listrik.

“Namun kuncinya ada pada sistem insentif FiT. Dengan kebijakan ini, produsen energi mendapatkan sejumlah insentif untuk periode 10-20 tahun untuk setiap kilowatt-jam (kWh) listrik yang mereka hasilkan dari sumber energi terbarukan yang tersambung ke jaringan listrik nasional,” ujarnya.

Misalnya Thailand menerapkan kebijakan yang mana mereka membayar tambahan 6,5 baht/kWh (US$ 0,22) kepada para pembangkit tenaga surya, di atas tarif listrik nasional. Malaysia pun berencana menetapkan tarif antara RM 0,85 atau RM 0,95 per KWh (US$ 0,32) untuk sistem dengan skala megawatt, dan sampai RM 1,23 per kWh (US$ 0,41) untuk sistem berskala kecil.

Bagaimana dengan Indonesia? Diinformasikan Lenz, pemerintah Indonesia mengembangkan program menginstalasi pembangkit listrik tenaga matahari yang terhubung jaringan listrik di 100 pulau kecil, yang kemudian dikembangkan menjadi 1.000 pulau. Dalam pengembangan ini Indonesia tidak menerapkan kebijakan feed-in-tariff.

Sementara total biaya yang akan dikerjakan PLN itu sebesar Rp 900 miliar. PLN juga akan menyediakan sistem tenaga matahari kecil di pedesaan Indonesia Timur bagi 340.000 dengan total investasi Rp. 1.2 trilliun.

 

*Sumber : detikfinance

Posted on November 3, 2011, in Berita Industri and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: