Asia tenggara merangkul tenaga surya (part 1)

Saya menemukan tulisan yang menarik tentang perkembangan pengaplikasian energi surya di Asia Tenggara, yang ditulis oleh Alexander Lenz, presiden dari Conergy Southeast asia dan Middle East yang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di energi surya. Beliau memaparkan kebijakan-kebijakan yang diambil negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia untuk meningkatkan penggunaan energi surya. Menarik untuk mencermati opini dari “pihak luar”, dan bisa dijadikan bahan evaluasi. Saya terjemahkan secara bebas tulisan beliau dibawah.

Sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia mulai mengambil langkah untuk berinvestasi skala besar dalam tenaga surya. Dengan cahaya matahari yang melimpah setiap hari, investor-investor tenaga surya di Asia Tenggara tergaransi akan kekonsistenan dan kembalinya investasi mereka, disamping berkontribusi positif dalam kelestarian lingkungan melalui penggantian energi fosil untuk sumber energi dengan teknologi surya yang terbarukan.

Bahkan ketika cuaca mendung, khususnya pada musim hujan, teknologi terbaru dari fotovoltaik menjamin pengguna dapat bergantung pada energi surya 365 hari setahun untuk mensuplai kebutuhan energi. Dan juga, dengan semakin berkembangnya  penggunaan ladang tenaga surya (solar power farms), dapat berkontribusi dalam pembangkitan listrik untuk distribusi melalui jaringan listrik nasional.

Hal ini didorong terutama oleh insentif pemerintah yang progresif  untuk berinvestasi dan menggunakan instalasi tenaga surya, banyaknya pengusaha, lembaga negara dan individual dalam menetapkan standar-standar untuk industri, didalam maupun luar negeri.

Kuncinya adalah Feed-in tariff

Insentif dari pemerintah umumnya termasuk mekanisme feed-in tariff (FiT), tax holiday perusahaan, pembebasan bea cukai dan pajak, dan garansi akses ke jaringan listrik. Namun, kuncinya ada pada sistem insentif FiT. Dengan kebijakan ini, produsen energi mendapatkan sejumlah insentif untuk periode 10 sampai 20 tahun untuk setiap kilowatt-jam (kWh) listrik yang mereka hasilkan dari sumber energi terbarukan yang tersambung ke jaringan listrik nasional.

Sebagai contoh, Thailand menerapkan kebijakan dimana mereka membayar tambahan 6.5 baht/kWh (~0.22 USD) kepada para pembangkit tenaga surya, diatas tarif listrik nasional. Malaysia juga berencana untuk menetapkan tarif antara RM0.85 atau RM0.95 per KWh (~0.32 USD) untuk sistem dengan skala megawatt, dan sampai RM1.23 per kWh (~0.41 USD) untuk sistem berskala kecil. Sementara itu, tarif sebesar 17.95 peso per kWh (~0.42 USD) sekarang sedang dalam pembahasan akhir di Filipina.  Malaysia dan Filipina diprediksi akan mengimplementasikan program FiT tahun ini.

Respon Baik

Pasar merespon dengan sangat baik dengan adanya insentif-insentif ini. Sampai sekarang, Kementrian Energi Thailand telah menerima aplikasi untuk lebih dari 3 gigawatt pabrik energi surya, jumlah ini 6 kali lipat dari target nasional Thailand untuk energi surya.

Dalam tiga tahun kedepan, Filipina akan menyelesaikan target instalasi antara 50 dan 100 megawatt (MW) kapasitas tenaga surya, disamping  537 MW proposal untuk pabrik surya yang telah masuk ke Departemen Energi Filipina.

Malaysia juga mempunyai target untuk menginstall 29 MW instalasi surya yang dimulai tahun ini dan 46 MW tahun depan. Melihat dari antusiasme berdasarkan forum publik yang belum lama ini dilaksanakan,penerapan energi surya di Malaysia diprediksi akan melebihi target ini.

Dipihak lain, Indonesia mengambil jalan yang agak berbeda. Walaupun dengan ketidakadaan kebijakan feed-in-tariff nasional, pemerintah, melalui perusahaan listrik nasional PT PLN, mengumumkan tahun ini akan menginstalasi pembangklit listrik tenaga surya yang terhubung jaringan listrik di 100 pulau-pulau kecil dan  1000 pulau lainnya pada tahun berikutnya.

Untuk program 100 pulau, PT PLN diprediksi akan meginvestasikan sekitar Rp 9 miliar untuk membangun pembangkit surya disetiap pulau, sehingga membutuhkan total investasi sekitar Rp 900 miliar untuk seluruh proyek. Disamping program 100 dan 1000 pulau, PT PLN telah mengumumkan akan menyediakan 340,000  rumah di pedesaan timur Indonesia dengan sistem tenga surya skala kecil, dengan total investasi sekitar Rp 1.2 triliun .

(Bersambung ke part 2)

*Sumber : http://www.siew.sg/energy-perspectives/alternative-energies/southeast-asia-embraces-solar-power

Posted on Agustus 23, 2011, in Opini, Tulisan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: