Arsip Blog

Olah Potensi 112.000 GWp dengan Fotovoltaik

Peluang bisnis di bidang energi pembangkit listrik tenaga surya demikian besar. Indonesia memiliki potensi energi surya sebesar 4.8 KWh/m2 setara 112.000 GWp sepuluh kali lipat dari potensi Jerman dan Eropa. Sumber energi yang renewable tidak lama lagi bakal berakhir.

Sumber gambar: http://m.energitoday.com/

Sumber gambar: http://m.energitoday.com/

Semestinya kekhawatiran terhadap sumber energi justru menginspirasi dan memotivasi anak-anak bangsa. Kita dapat melakukan terobosan untuk menciptakan teknologi untuk mengolah kekayaan dan potensi sumber energy terbarukan untuk mengganti  sumber energi yang renewable. Saatnya kita berpaling untuk memanfaatkan kekayaan dan potensi energi yang sumbernya beragam seperti tenaga surya/sinar matahari.

Apakah kita punya good will? Pertanyaan ini yang harus dijawab oleh para pakar energi dan teknologi. Pemerintah telah memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk menerangi beberapa pedesaan di tanah air. Sayangnya, pemanfaatannya belum maksimal. Tahun 2013 hingga tahun 2014, pemerintah  baru berhasil melelang 8 atau 10 persen dari 80 proyek PLTS yang pembangunannya direncanakan hingga tahun 2015.

Berdasarkan data dari Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, proyek PLTS itu berlokasi di Kupang, Nusa Tenggara Timur yang kapasitas 5 MW dengan investasi Rp100 miliar—harga di luar tanah. PLTS itu beroperasi akhir tahun 2014.

Sementara itu, tujuh lokasi proyek PLTS lainnya yang dipilih adalah  Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat dengan kapasitas 2 MW, Gorontalo, Sulawesi Tenggara berkapasitas 2 MW, dan di Sintang, Kalimantan Barat 1,5 MW. Di desa Nanga Pinoh, Kalimantan Barat juga dibangun PLTS dengan kapasitas 1 MW, di Kota Baru, Kalimantan Selalatan dengan 2 MW, di Tanjung Selor, Kalimantan Timur berkapasitas 1 MW, dan di Atambua, NTT sebesar 1 MW. Proses lelang tidak dapat dilakukan serentak, melainkan satu per satu proyek mengingat teknologi yang digunakan demikian padat.

Potensi PLTS Indonesia lebih besar dari Jerman/Eropa

Kebutuhan listrik terus meningkat sesuai dengan kemajuan masyarakat. Apabila pemerintah kurang berhasil memenuhinya keadaan menjadi masah besar. Sekadar catatan, energi listrik yang mampu dipasok oleh PLN baru 1500-2000 MW. Oleh karena itu, PLN sering melakukan pemadaman listrik bergilir. Proyek listrik 10.000MW yang sudah selesai dibangun belum mampu memenuhi permintaan listrik yang terus melonjak tiap tahun.

Kita mengharapkan agar sumber energi alternatif tidak hanya bersifat renewable dan mudah dikonversi menjadi energi listrik, dan juga ramah lingkungan. Energi yang paling sesuai adalah energi surya.

140115-02b

Gambar di atas menunjukkan potensi tenaga surya dunia. Potensi tenaga surya Indonesia secara umum berada pada tingkat satisfy (cukup) yang dapat kita jadikan sebagai salah satu patokan untuk menyusun perencanaan pembangunan sumber energi PLTS pada masa depan. Menuju pada tingkat kemampuan yang baik dalam hal supply tenaga listrik yang bersumberkan dari energi surya, kita memerlukan teknologi konversi tenaga surya menjadi tenaga listrik—bukanlah teknologi sederhana. Teknologi ini memerlukan berbagai mesin, sistem, komponen yang harus dihitung cermat dan baik agar sesuai dengan kondisi alam Indonesia.

Menurut Phelia salah seorang pemerhati tenaga surya, proses teknologi surya melibatkan fluida gerak yang menyerap panas dari surya. Fluida itu melalui turbin yang mengkonversi panas menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini diteruskan ke generator dan dikonversikan menjadi energi (sumber) listrik.

Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi alternatif untuk mengatasi krisis energi, khususnya minyak bumi, yang terjadi sejak tahun 1970-an mendapat perhatian yang cukup besar dari banyak negara di dunia. Di samping jumlahnya yang tidak terbatas, pemanfaatannya juga tidak menimbulkan polusi yang dapat merusak lingkungan. Cahaya atau sinar matahari dapat dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan teknologi sel surya atau fotovoltaik.

Potensi energi surya di Indonesia sangat besar yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp. Indonensia memanfaatkan baru sekitar 10 MWp. Untungnya, pemerintah telah mengeluarkan roadmappemanfaatan energi surya yang menargetkan kapasitas PLTS terpasang hingga tahun 2025 mencapai sebesar 0.87 GW atau sekitar 50 MWp/tahun. Jumlah ini merupakan gambaran potensi pasar yang cukup besar dalam pengembangan energi surya pada masa datang.

Komponen utama sistem PLTS dengan menggunakan teknologi fotovoltaik adalah sel surya. Saat ini terdapat banyak teknologi pembuatan sel surya. Sel surya konvensional yang sudah komersial  adalah penggunaan teknologi wafer silikon kristalin yang proses produksinya cukup kompleks dan mahal. Secara umum, pembuatan sel surya konvensional diawali dengan proses pemurnian silika untuk menghasilkan silika solar grade (ingot), dilanjutkan dengan pemotongan silika menjadi wafer silika. Selanjutnya wafer silika diproses menjadi sel surya, kemudian sel-sel surya disusun membentuk modul surya.  Tahap terakhir adalah mengintegrasi modul surya denganbalance of system (BOS) menjadi sistem  PLTS. BOS adalah komponen pendukung  yang digunakan dalam sistem PLTS seperti inverter, batere, sistem kontrol, dan lain-lain.

Sumber gambar: http://www.bursaenergi.com/

Meski pengembangan PLTS telah mempunyai basis yang cukup kuat dari aspek kebijakan, namun pada tahap implementasi, potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Secara teknologi, industri photovoltaic (PV) di Indonesia baru mampu melakukan pada tahap hilir—memroduksi modul surya dan mengintegrasikannya menjadi PLTS, sementara sel suryanya masih impor. Padahal sel surya adalah komponen utama dan yang paling mahal dalam sistem PLTS. Harga yang masih tinggi menjadi isu penting dalam perkembangan industri sel surya. Berbagai teknologi pembuatan sel surya terus diteliti dan dikembangkan dalam rangka upaya penurunan harga produksi sel surya agar mampu bersaing dengan sumber energi lain.

Ratio elektrifikasi di Indonesia baru mencapai 55-60 % dan hampir seluruh pedesaan belum dialiri listrik—jauh dari pusat pembangkit listrik. Oleh karena itu, PLTS yang dibangun hampir di semua lokasi merupakan alternatif sangat tepat untuk dikembangkan. Dalam kurun waktu tahun 2005-2025, pemerintah telah merencanakan menyediakan 1 juta Solar Home System berkapasitas 50 Wp untuk masyarakat berpendapatan rendah serta 346,5 MWp PLTS hibrid untuk daerah terpencil. Hingga tahun 2025 pemerintah merencanakan akan ada sekitar 0,87 GW kapasitas PLTS terpasang.

Dengan asumsi penguasaan pasar hingga 50%, pasar energi surya di Indonesia sudah cukup besar untuk menyerap keluaran dari suatu pabrik sel surya berkapasitas hingga 25 MWp per tahun. Hal ini tentu merupakan peluang besar bagi industri lokal untuk mengembangkan bisnisnya ke pabrikasi sel surya.

Dengan wilayah yang luas dan intensitas cahaya matahari yang tinggi, pasokan listrik dari tenaga surya bisa menjadi andalan, demikian Principal Advisor Deutsche Gessellschaft fur Internationale Zusammenarbeit Indonesia Rudolf Rauch. Ia menambahkan Jerman dengan intensitas matahari yang tidak terlalu tinggi, bisa membangkitkan listrik 25 ribu Megawatt. “Indonesia memiliki potensi 6 hingga 10 kali dari Jerman,” kata  Rudolf pada April 2012.

140115-02d

Rudolf mengakui bahwa pengembangan pembangkit listrik tenaga surya menyerap investasi yang besar. Pembangunan pembangkit surya berkapasitas 7.500 Megawatt di Jerman yang menelan investasi 50 miliar Euro (Rp606,5 triliun). Sedangkan biaya pembangunan pembangkit surya di Indonesia bisa lebih murah karena paparan sinar matahari 50 persen lebih banyak ketimbang di Eropa. Pembangunan pembangkit berkapasitas 10.000 MW misalnya, diperkirakan memerlukan investasi 10 miliar Euro (Rp121,3 triliun). Padahal Indonesia mensubsidi sekitar 20 miliar Euro atau Rp242,6 triliun setahun seperti diungkapkan oleh  Martin Krummeck, Deputi Managing Director German-Indonesian Chamber of Industry and Commerce (Ekonid).

Kunci kebehasilan PLTS terletak pada penyusunan receiver dengan bahan dan susunan yang dapat menyerap energi panas dari matahari dengan baik dan memiliki harga yang ekonomis. Untuk mampu menyerap energi panas diperlukan struktur film yang kristalin. Dalam pembuatan satu sel dengan struktur kristalin diperlukan teknologi yang baik dan cukup mahal. Umumnya bahan ini berbasiskan silikon. Sebagai gambaran, bentuk receiver panas surya dapat dilihat pada gambar pada awal tulisan ini. Receiverberbentuk silinder tersusun dari tabung gelas, ruang vakum dan sel penyerap panas.

Selain dalam hal receiver panas kendala lain dalam aplikasi sel surya adalah pembuatan baterai penyimpan energi listrik yang murah. Oleh karena itu, penelitian ke arah teknologi sel surya dan komponen-komponennya yang lebih ekonomis dan praktis sangat diperlukan. Dengan demikian, teknologi ini diharapkan tidak hanya menjadi teknologi yang berguna bagi negara maju namun juga bagi daerah yang mengalami keterbatasan pasokan listrik.

Salah satu contoh PLTS  jenis komunal sedang dibangun di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Kepala Bidang Ketenagalistrikan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Nunukan Yosua Batara mengatakan, akan ada tiga PLTS komunal yang dibangun di wilayahnya pada tahun ini. PLTS yang dibangun di Desa Srinanti, Kecamatan Simenggaris berkapasitas 50 kilowatt volt (KWV), Desa Bukit Harapan, Kecamatan Sebatik Tengah 50 KWV, dan Desa Balatikon, Kecamatan Sebuku 10 KWV.

Pembangunan PLTS tidak akan berhenti di tiga lokasi tersebut saja. Selanjutnya, PLTS komunal juga akan dibangun di kecamatan yang berbatasan dengan Negeri Sarawak, yakni Kecataman Krayan dan Kraya Selatan.

Pembangunan PLTS komunal diperuntukkan bagi kecamatan yang masih sulit dijangkau oleh jaringan listrik. Pembangunan PLTS ini merupakan rangkaian program Pemkab Nunukan, yakni Gerbang Emas (Gerakan Pembangunan Ekonomi Mandiri, Aman dan Sejahtera) dengan slogan “Perbatasan Terang Benderang”. “PLTS akan dibangun secara terpusat dan selanjutnya akan dialirkan ke rumah-rumah penduduk,” jelas Yosua.

Bupati Nunukan Basri mengatakan, pembangunan PLTS komunal ini telah menjadi upaya pemerintah pusat dan daerah dalam memberikan pelayanan tenaga listrik bagi masyarakat di wilayah perbatasan dan terpencil di daerahnya. Pasalnya, listrik telah menjadi kebutuhan primer. (Sumber tulisan: Diolah dari http://www.litbang.esdm.go.id, tender-indonesia.com, TEMPO, ANTARA,  dan lain-lain).

 

*Sumber: http://www.mmindustri.co.id/olah-potensi-112-000-gwp-dengan-fotovoltaik/

Timeline sejarah energi surya (infographic)

Dibawah ini adalah infographic mengenai timeline sejarah perkembangan energi surya yang sangat menarik dan ilustratif,  dari mulai ditemukan efek fotovoltaik pertama kali oleh Becquerel pada tahun 1839 sampai dengan kondisi tahun 2013.  Gambar ini diambil dari situs theecoexperts.co.uk.

The_Solar_Timeline (1)

Timeline Sejarah Energi Surya. (silakan di zoom untuk lebih jelas)

*Sumber: http://www.theecoexperts.co.uk/the-history-of-solar-energy-infographic

PLN Barter Listrik dengan Pelanggan Tenaga Surya

Metrotvnews.com, Jakarta: PT PLN (Persero) siap menerima kelebihan energi listrik yang dihasilkan pelanggan pengguna panel surya dengan menerapkan sistem ekspor-impor. Sistem ini dilakukan PLN kepada pelanggan pengguna panel surya sebagai upaya mendorong percepatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).

Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwiyanto menjelaskan untuk pelanggan PLN yang menggunakan panel surya, PLN akan memasang meter listrik ekspor-impor. “Pengiriman kelebihan listrik dapat terjadi karena pelanggan memiliki dua sumber pasokan listrik, dari panel surya dan dari PLN,” ujar Bambang dalam siarang pers yang diterimaMedia Indonesia, Kamis (21/11).

Energi listrik yang diterima PLN dari panel surya akan di-offset oleh PLN dengan energi listrik yang dikirim PLN ke pelanggan. “Bila listrik yang diterima PLN dari panel surya lebih besar dari listrik yang dikirim PLN, selisihnya menjadi deposit listrik yang akan diperhitungkan untuk pemakaian listrik bulan-bulan berikutnya.” kata dia.

Selain untuk mendorong pemanfaatan EBT, sistem ekspor-impor listrik juga bermanfaat menambah kapasitas pasokan listrik kepada pelanggan. “Hingga saat ini sudah ada beberapa pelanggan yang memanfaatkan panel surya dan melakukan barter energi listrik dengan PLN,” cetusnya.

Para pelangan PLN yang memasang panel surya di bangunan miliknya untuk memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri selain dari PLN dapat menggunakan energi listrik yang dihasilkan dari panel surya tersebut secara pararel dengan pasokan listrik dari PLN. Misalnya, dari pukul 07.30 hingga 17.00 pelangan menggunakan listrik dari panel surya miliknya. Kemudian sore, malam, dan menjelang pagi, pelanggan beralih menggunakan listrik dari PLN. (Ayomi Amindoni)

 

*Sumber: Metrotvnews

Pemerintah Sepakati Harga Listrik Tenaga Matahari

Sumber:Antara Foto

Sumber:Antara Foto

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah akhirnya menetapkan harga pembelian listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Listrik dari energi matahari itu disepakati akan dibeli PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 25 sen dolar AS per kilowatt hour (kWh).

Keputusan feed in tariff (FIT) PLTS ini diketok dalam rapat koordinasi dengan Kementerian Perekonomian. “Harga ini sesuai dengan usulan kami,” kata Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana pada Republika, Ahad (10/3).

Aturan resmi yang mengatur ketatapan tarif ini bakal segera diterbitkan. Ia menuturkan kemungkinan besar aturan terbit akhir Maret mendatang.

Menurutnya, tarif ini akan berlaku tetap hingga masa kontrak 20 tahun setelah perjanjian jual beli listrik antara PLN dan produsen ditandatangani. Bisa saja harga turun secara bertahap setelah perjanjian berakhir.

Penetapan FIT PLTS dilakukan guna mendukung program bauran energi untuk membangkitkan listrik. Penggunaan BBM sebagai energi pembangkit listrik membuat anggaran yang dikeluarkan melonjak mengingat harga minyak terus naik.

Harga minyak yang mencapai 100 dolar AS lebih, membuat biaya yang dikeluarkan terus melonjak. Dari data Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di 2009 hingga 2010 misalnya, inefisiensi PLN akibat penggunaan BBM mencapai Rp 37,6 triliun.

Kepala Divisi Energi Terbarukan PLN Mochammad Sofyan menegaskan perusahaan siap membeli listrik surya sesuai dengan harga yang dibuat pemerintah. “FIT adalah penugasan. Jadi harus diikuti,” katanya.

Ia pun memandang dari segi tarif, penetapan 25 sen dolar AS lebih murah, dibanding pembelian listrik dari diesel (BBM). Di mana harganya bisa mencapai 35 hingga 40 sen dolar AS.

Namun ia menekankan soal stabilitas pasokan yang harus benar-benar dijaga. “Karena PLTS ini keandalannya juga tergantung dengan grid PLN. Harus cari lokasi yang terdekat dengan transmisi PLN,” jelasnya.

Hingga kini, porsi energi baru terbarukan sebagai energi pembangkit listrik PLN masih minim. Di 2012 lalu, energi pembangkit listrik dari energi terbarukan hanya berasal dari dua komponen. Yakni panas bumi dengan kontribusi lima persen dan air enam persen.

Sedangkan sisanya masih berasal dari energi non-terbarukan. BBM misalnya mendominasi hingga 15 persen sementara gas 24 persen dan batu bara 50 persen.

Di 2013 ini pun, komposisi energi terbarukan tak begitu signifikan. Malah panas bumi dan air hanya ditargetkan lima persen. Sisanya BBM 10 persen, gas 23 persen serta batu bara 57 persen.

Infografik fakta fotovoltaik dari PV magazine

 

 

 

pv_magazine_solar_myths

2012 Jakarta bangun PLTS

Sindonews.com – Guna menghemat pemakaian energi bahan bakar fosil, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai memanfaatkan energi baru, yakni tenaga surya.

Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), energi baru ini telah mengalirkan listrik ke rumah-rumah warga dan perkantoran di Kepulauan Seribu, serta 39 titik penerangan jalan umum (PJU) di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu.

“Dengan bantuan dana APBN, kami telah membangun pemanfaatan energi baru terbarukan tenaga surya atau PLTS untuk rumah dan kantor Kepulauan Seribu,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta, I Putu Ngurah Indiana di Balai Kota, Jakarta, Rabu, (12/10/2011).

Dijelaskannya, ada sekitar 10 PLTS yang didirikan di empat pulau di Kepulauan Seribu, dengan total daya listrik mencapai 43 ribu watt. Di antaranya, di Pulau Karya ada tujuh PLTS, di Pulau Rambut ada satu PLTS, di Pulau Onrust satu PLTS, dan di Pulau Sabira satu PLTS.

Selain itu, keberadaan PLTS juga mampu mengalirkan listrik ke PJU di Jakarta. Dinas, lanjutnya, bahkan berencana menambah titik lokasi PJU yang dialiri listrik dari tenaga surya di Kepulauan Seribu, yaitu sebanyak 53 titik PJU.

Kemudian di tahun 2012, Putu menjelaskan telah merencanakan proyek percontohan pembangunan PLTS dengan sistem terhubung (on gried) dengan jaringan PT PLN di salah satu bangunan yang merupakan aset Pemprov DKI.

“Semuanya ini sedang kita persiapkan. Kami harap dapat dilaksanakan pada tahun depan. Sehingga, daya kapasitas listrik bagi kota Jakarta bertambah dengan adanya PLTS tersebut,” ujarnya.

Sekadar diketahui, saat ini peningkatan kebutuhan listrik telah menjadi permasalahan yang mendesak para peneliti Indonesia. Energi listrik yang mampu dipasok oleh PLN Indonesia baru 1500-2000 MW. Pemadaman listrik bergilir masih sering dilakukan dan proyek listrik 10.000 MW masih belum tuntas sementara tuntutan atas pemenuhan listrik melonjak tiap tahun.

Sumber energi alternatif yang diharapkan tidak hanya bersifat renewable dan mudah dikonversi menjadi energi listrik, tetapi juga ramah lingkungan. Beberapa kalangan menilai bahwa energi yang paling sesuai adalah energi surya.

Sementara itu potensi tenaga surya Indonesia secara umum ada pada tingkat satisfy (cukup). Hal ini tentunya dapat menjadi salah satu patokan kita dalam menyusun perencanaan energi di masa depan. Selain itu potensi ini setidaknya dapat menjadi penyejuk di tengah panasnya isu krisis listrik yang selama ini menghantui Indonesia.

Untuk menuju pada tingkat kemampuan yang baik dalam hal supply tenaga listrik dari energi surya kita masih perlu berjuang. Teknologi konversi tenaga surya menjadi tenaga listrik bukanlah teknologi yang sederhana. Teknologi ini memerlukan berbagai komponen yang terkait dengan perhitungan dan pemikiran yang baik.

Editor: Dadan Muhammad Ramdan
Laporan: Dwi Afrilianti (okezone)

*Sumber : Sindonews

Melihat Perkembangan Industri Fotovoltaik Dunia dari Event PV EXPO 2011 di Tokyo, Jepang

Pada tanggal 2 – 4 Maret 2011, saya berkesempatan untuk mengunjungi event  PV EXPO 2011 yang diadakan di Tokyo Big Sight, Jepang. Walaupun sudah beberapa bulan yang lalu, tapi informasi yang ada saya pikir masih relevan dengan perkembangan fotovoltaik akhir-akhir ini. Laporan kunjungan ini akan mengulas beberapa perkembangan penting fotovoltaik yang saya dapat dari event ini.

PV EXPO merupakan acara tahunan di Jepang dimana perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang fotovoltaik dari berbagai negara, baik perusahaan yang memproduksi modul/sel fotovoltaik maupun komponen-komponen atau alat-alat karakterisasi fotovoltaik berkumpul dan memamerkan produk dan teknologi terbaru mereka masing-masing. Disamping event PV EXPO 2011 ini, di tempat yang sama berlangsung juga event-event lain berkaitan dengan energi terbarukan secara paralel seperti FC EXPO 2011, BATTERY JAPAN, PV SYSTEM EXPO, Processing Technology Expo, Eco House & Eco Building Expo, dan Int’l SMART GRID EXPO.

Event-event dalam rangkaian acara Japan Renewable Energy Week 2011

 

Pemotongan pita pada acara pembukaan PV EXPO 2011 oleh pimpinan perusahaan-perusahaan fotovoltaik.

 

 Suasana keramaian acara PV EXPO 2011 pada hari pertama

Perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi umumnya berasal dari Asia dengan didominasi oleh perusahaan dari Jepang sendiri dan juga beberapa perusahaan dari China, Taiwan, Korea, India, Australia, Swiss, Jerman, Kanada, dan Amerika Serikat. Menarik melihat perkembangan industri fotovoltaik sekarang yang dahulu hanya didominasi oleh perusahaan-perusahaan Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat, namun sekarang perusahaan-perusahaan dari China dan Taiwan juga mulai menjadi pemain penting di industri fotovoltaik. Sebagai informasi sepuluh perusahaan produsen sel/modul fotovoltaik terbesar didunia berdasarkan jumlah produksinya pada tahun 2009 adalah  First Solar/Amerika Serikat (1.011 MW), Suntech Power/Cina (704 MW), Sharp/Jepang (595 MW), Q-Cells/Jerman (537 MW), Yingli Green Energy/Cina (525 MW), JA Solar/Cina (509 MW), Kyosera/Jepang (400 MW), Trina Solar/Cina (399 MW), Sunpower/Amerika Serikat (398 MW), dan Gintech/Taiwan (368 MW) [Razykov, Solar Energy 2011]. Dengan adanya 5 perusahaan dari China dan Taiwan yang berada pada top 10 produsen fotovoltaik dunia menunjukan bahwa pasar industry fotovoltaik di kedua negara tersebut berjalan dengan pesat.

Produk-produk yang dipamerkan beragam mulai dari modul fotovoltaik, komponen-komponen penunjang teknologi fotovoltaik, sampai alat pengecek kualitas material fotovoltaik. Modul fotovoltaik yang dipamerkan masih didominasi oleh fotovoltaik berbasis material kristal silikon, yang saat ini mendominasi pasar global fotovoltaik sebesar lebih dari 80%. Perusahaan besar seperti Sharp, Kyocera, Toshiba, dan Suntech Power tetap mengusung fotovoltaik berbasis kristal silicon sebagai produk andalannya dengan berbagai inovasi teknologi masing-masing. Saat ini efisiensi konversi energi surya ke listrik tertinggi dipasaran untuk modul fotovoltaik jenis ini dipegang oleh SunPower dengan efisiensi 24.2%, walaupun perusahaan ini tidak ikut berpartisipasi pada event ini. Untuk jenis teknologi fotovoltaik lapisan tipis (thin film), yang disebut sebagai teknologi fotovoltaik generasi kedua setelah fotovoltaik kristal silikon, perusahaan Solar Frontier dari Jepang merupakan salah satu perusahaan yang mengusung teknologi ini dengan material CIS (copper, indium, selenium)-nya. Sayang sekali perusahaan First Solar sebagai produsen fotovoltaik lapisan tipis terbesar di dunia dengan material CdTe (Cadmiu Telluride)-nya tidak ikut berpartisipasi dalam event ini. Sedangkan untuk jenis fotovoltaik generasi ketiga seperti fotovoltaik organik dan dye-sensitized, perusahaan-perusahaan seperti Mitsubishi Chemical dan Dyesol merupakan perusahaan yang mengusung teknologi ini, walaupun masih belum ketahap skala luas.

Sistem Real-time Monitoring Fotovoltaik.

 

Salah satu Teknologi Fotovoltaik dari Sharp

Perkembangan Market Fotovoltaik non-silikon

Menarik juga untuk melihat perkembangan teknologi dan pasar fotovoltaik non-silikon terutama fotovoltaik jenis lapisan tipis (thin film) di event ini. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan untuk nilai Watt/$ yang semakin murah untuk fotovoltaik agar bisa bersaing dengan harga energi yang berasal dari bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam), fotovoltaik lapisan tipis menjadi pilihan alternatif di samping silikon. Sesuai dengan namanya, fotovoltaik lapisan tipis menggunakan material penyerap cahaya yang memungkinkan tebal lapisan material tersebut kurang dari beberapa mikrometer, dibanding dengan fotovoltaik jenis kristal silicon yang membutuhkan ketebalan silikon sampai beberapa ratus mikron. Jenis materialnya pun beragam seperti CdTe (Cadmium Telluride), CIGS (Copper Indium Gallium Selenium/Sulfur), dan amorphous silicon. Disamping itu, karena material fotovoltaik lapisan tipis tidak membutuhkan kemurnian yang tinggi seperti fotovoltaik kristal silicon yang membutuhkan kemurnian silicon sampai 99.99%, teknologi pembuatan materialnya pun beragam mulai dari metoda fisik seprti Physical Vapor Deposition (PVD) dan sputtering sampai metoda kimia seperti screen printing dan elektrodeposisi.

Pada tahun 2009 sebanyak 18% dari total produksi fotovoltaik didunia berasal dari fotovoltaik lapisan tipis, meningkat dari 12.5% pada tahun 2008 (Solarbuzz). Pada tahun 2010 dan tahun-tahun berikutnya disinyalir pasar fotovoltaik lapisan tipis akan terus berkembang dengan munculnya berbagai inovasi dan juga kepercayaan konsumen terhadap teknologi ini. Hal ini juga terlihat di event ini dengan berkembangnya perusahaan-perusahaan yang mengkhususkan produknya dalam fotovotaik lapisan tipis, seperti perusahaan Solar Frontier. Pada event ini Solar Frontier, yang merupakan anak perusahaan Showa Shell, mendapat perhatian yang khusus dari pengunjung karena merupakan perusahaan yang menggembor-gemborkan kespesialisasiannya dalam jenis fotovoltaik lapisan tipis yang menggunakan material non-silikon, terutama berbasis material CIS (copper, indium, selenium). Efisiensi yang telah dicapai dengan jenis teknologi ini sebesar 12.2%. Walaupun efisiensinya masih dibawah fotovoltaik kristal silicon, namun keunggulan yang diusung adalah lebih sedikitnya Energy Payback Time (EPT) yang didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan modul fotovoltaik untuk menghasilkan jumlah energi yang sama dengan energi yang diperlukan untuk memproduksi modul fotovoltaik tersebut. Solar Frontier mengklaim bahwa EPT dari modul CIS mereka adalah kurang dari 1 tahun dibanding dengan fotovoltaik kristal silicon dengan EPT sebesar 1.5 tahun.

Keunggulan modul fotovoltaik CIS dibanding teknologi-teknologi fotovoltaik lain. (Sumber : Solar Frontier)

 

Energy Payback Time (EPT) dari modul fotovoltaik kristal silicon, amorphous silicon, dan CIS. [Sumber : New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO)]

Pada tahun 2011 ini juga salah satu pabriknya di kota Miyazaki, Jepang, yang mempunyai kapasitas produksi sebesar 900 MW, direncanakan akan mulai beroperasi dan apabila telah beroperasi akan menjadi fasilitas produksi fotovoltaik terbesar di dunia. Dengan beroperasinya fasilitas produksi fotovoltaik yang mendekati Gigawatt ini, pada tahun 2011 prosentase total produksi fotovoltaik yang berasal dari lapisan tipis dipastikan akan meningkat dengan pesat dan memungkinkan harga Watt/$ yang semakin murah.

 

Perkembangan perusahaan-perusahaan fotovoltaik China dan Taiwan

Tidak lengkap apabila tidak melihat perkembangan industri fotovoltaik di China, negara dengan ekonomi terbesar kedua didunia, dan juga Negara tetangganya Taiwan. Event PV EXPO 2011 ini ditandai dengan semakin banyaknya jumlah perusahaan dari China dan Taiwan yang berpartisipasi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menandakan perkembangan pesat dari industri fotovoltaik dikedua negara tersebut. Bahkan di event ini disediakan satu kawasan lokasi khusus untuk perusahaan-perusahaan dari China dan Taiwan untuk memamerkan produk-produk mereka. Perusahaan-perusahaan pemain utama pasar fotovoltaik dunia seperti Yingli Green Energy, Suntech Power, JA Solar, Trina Solar, dan Gintech ikut berpartisipasi. Sebagai informasi, 49% dari total produksi fotovoltaik didunia pada tahun 2009 berasal dari China dan Taiwan (Solarbuzz). Melihat perkembangan yang pesat dari pasar fotovoltaik China dan Taiwan ini, bukan tidak mungkin China dan Taiwan akan semakin memantapkan posisinya sebagai pemain dominan dalam industri fotovoltaik dunia di beberapa tahun mendatang.

Booth dari Yingli Solar, salah satu perusahaan fotovoltaik China.

 

*Tulisan ini adalah versi belum teredit dari artikel dengan judul “Photovoltaic Kian Tangguh” yang terdapat di Majalah Energi edisi 7- Mei 2011.

 

 

 

Saudi Aramco dan Showa Shell berencana bekerja sama memproduksi sel surya di Saudi Arabia

Chief eksekutif Saudi Aramco, Khalid Al-Falih, bertujuan untuk memulai produksi sel surya di Saudi Arabia dalam dua atau tiga tahun ini melalui kerjasama dengan produsel sel surya thin film (lapisan tipis) dari Jepang Showa Shell Sekiyu KK, seperti dilaporkan koran bisnis jepang Nikkei.

Jika Aramco berrhasil memperkenalkan teknologi milik Showa Shell ke Saudi Arabia, hal tersebut dapat berkontribusi besar terhadap sasaran utama negara Saudi Arabia dalam diversifikasi industri, ujar beliau seperti dikutip di koran tersebut dalam suatu wawancara.

Saudi Arabia, salah satu eksporter terbesar minyak bumi didunia, berharap untuk mengurangi penggunaan dari energi fosil, yang lebih diutamakan untuk diekspor, dengan membangun pabrik nuklir dan energi terbarukan.

Pada 2009, Aramco dan Showa Shell menandatangani perjanjian untuk membuat fasilitas pembangkit surya berskala kecil , dan Showa Shell dan Saudi Electricity Co. (SEC) tahun ini membuka pembangkit energi surya 500 kilowatt (kW) di Saudi Arabia.

Pembangkit energi surya pertama di Saudi Arabia di daerah Farasan dibuka tahun ini dengan kapasitas sekitar 500 kW. (Gambar : arabnews.com)

Spesialisasi Showa Shell adalah dalam sel surya terbuat dari copper (tembaga), indium, dan selenium. Material ini tidak seefisien sel surya yang terbuat dari silikon dalam mengkonversi cahaya menjadi listrik namun lebih murah, poin yang akan menjadi kunci di masa depan.

 

*Sumber : Reuters dan arabnews.com

 

1.000 PLTS Untuk 1.000 Pulau Di Indonesia

JAKARTA – PT PLN (Persero) berencana untuk membangun 1.000 Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk Pulau-Pulau terisolasi di Indonesia. Pembangunan PLTS-PLTS tersebut memakan waktu selama 5 tahun dan akan di mulai tahun depan (2012), demikian diutarakan Direktur Utama PT PLN (Persero) Dahlan Iskan disela-sela Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Kamis, (29/9/2011).

“PLN merencanakan akan membangun 1.000 PLTS dalam 3 tahun kedepan yang akan di mulai tahun depan…PLTS-PLTS tersebut akan di pasang pada 1.000 pulau,” tutur Dahlan.

Untuk merealisasikan rencanakan tersebut, PT PLN (Persero) telah membentuk Tim yang khusus dan jika pengembangan ini berhasil, lanjutnya, maka Indonesia dapat masuk ke dalam peta pengguna energi terbarukan dunia.

PT PLN (Persero) saat ini sedang menyelesaikan 100 PLTS, dimana 36 PLTS (8 MW) diantaranya sedang proses tender dan akan diselesaikan tahun ini dan sisanya sedang proses finalisasi tender. “Tahun ini separuh jadi ..selebihnya itu mungkin telatnya sedikit aja ..karena di proses tender saja, kalau proses pengerjaanya itu hanya hitungan bulan,” ujar Dahlan.

Mengenai biaya produksinya Dahlan manyatakan hampir sama dengan BBM dan nilai investasi pembangunan 100 PLTS tersebut sekitar 900 milyar. (SF)

 

*Sumber : http://www.esdm.go.id

Pengenalan Energi Surya

Matahari adalah salah satu komponen utama penggerak kehidupan. Rasanya sulit membayangkan kelangsungan hidup makhluk hidup  tanpa adanya matahari. Siklus alam seperti angin, air, dan juga siklus dalam tumbuhan yaitu fotosintesis, kesemuanya melibatkan peran matahari, baik akibat dari posisi matahari terhadap bumi, maupun akibat radiasi cahaya yang sampai ke bumi. Studi juga menunjukkan bahwa energi matahari yang sampai kebumi dalam satu jam sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan energi seluruh manusia dipermukaan bumi dalam satu tahun! Alasan yang cukup untuk memacu pemaksimalkan energi matahari sebagai energi terbarukan terutama dengan pengkonversian menjadi listrik oleh divais sel/panel surya.

Konversi energi cahaya matahari menjadi listrik oleh sel/panel surya adalah alternatif untuk memaksimalkan potensi energi surya untuk sumber energi yang berkelanjutan. (Gambar : ecofriend)

Matahari memancarkan radiasi cahaya dengan berbagai panjang gelombang, mulai dari ultraviolet, cahaya tampak, sampai infrared dari spektrum elektromagnetik. Radiasi ini timbul sebagai akibat dari permukaan matahari yang mempunyai temperatur sekitar 5800 K (~5500 C) sehingga spektrum yang dipancarkan matahari sama dengan spektrum dari blackbody pada temperatur yang sama. Blackbody ini didefinisikan sebagai objek yang menyerap secara sempurna semua radiasi elektromagnetik, dan juga mampu memancarkan radiasi dengan distribusi energi bergantung kepada temperaturnya.

Perbandingan Spektra Energi radiasi sebagai fungsi panjang gelombang dari matahari untuk kondisi  tepat diatas atmosfer bumi, blackbody, dan pada permukaan bumi.  (Gambar : wikipedia)

Gambar diatas menunjukan besar energi radiasi yang diterima dari matahari per satuan area per satuan waktu sebagai fungsi dari panjang gelombang.  Pada permukaan matahari energi radiasi yang dipancarkan yaitu sebesar 62 MW/m2, dan diatas atmosfer bumi radiasinya berkurang menjadi total  sebesar 1353 W/m2. Untuk radiasi blackbody, semakin tinggi temperatur objek blackbody tersebut maka semakin besar juga energi radiasinya. Blackbody pada temperatur rata-rata bumi yaitu 300 K, paling kuat memancarkan pada gelombang infrared dan radiasinya tidak dapat terlihat oleh mata. Untuk matahari, dengan temperatur skitar 5800 K, radiasinya paling kuat berada pada gelombang cahaya tampak (visible) dengan panjang gelombang sekitar 300 – 800 nanometer (nm), seperti terlihat pada gambar diatas.

Efek Awan dan Atmosfer bumi terhadap energi radiasi yang sampai ke permukaan bumi. Sekitar 50% dari energi radiasi matahari yang tiba di atmosfer bumi, sampai ke permukaan bumi. (Gambar : Wikipedia dan NASA)

Radiasi cahaya matahari yang sampai dipermukaan atmosfer bumi tidak semuanya diterima oleh permukaan bumi karena mengalami proses pengamburan oleh awan atau juga partikel-partikel lain yang ada didalam atmosfer bumi.  Cahaya  dengan panjang gelombang  kurang dari 300 nm dan cahaya tampak  difilter oleh atom dan molekul oksigen (O2), ozon (O3), dan nitrogen (N2). Sedangkan air (H2O) dan karbon dioksida (CO2) umumnya menyerap cahaya pada area gelombang infrared yang merupakan alasan penurunan secara drastis pada spektra radiasi di panjang gelombang 900, 1100, 1400, 1800, 1900 dan 2600 nm.

Berbagai kondisi Air Mass yang )bergantung pada sudut elevasi matahari. Umumnya Air Mass (AM 1.5) digunakan sebagai untuk standar pengukuran performansi sel dan panel surya. (Gambar : LaserFocusWorld)

Pengaruh dari atmosfer terhadap spektrum radiasi matahari direpresentasikan dengan faktor “Air Mass” (AM), yang didefinisikan sebagai jarak tempuh cahaya matahari dalam atmosfer bumi sebagai fungsi dari sudut elevasi matahari terhadap permukaan bumi. Gambar diatas menggambarkan berbagai kondisi air mass sesuai sudut elevasi matahari.  Air Mass 0 (AM0) menggambarkan kondisi cahaya matahari tepat diluar atmosfer bumi, sehingga relevan untuk panel surya yang digunakan pada satelit-satelit bumi.  Untuk AM1, jarak tempuh cahaya matahari sama dengan tebal dari atmosfer ketika kondisi matahari tepat berada diatas. Namun apabila tidak tepat berada diatas, jarak tempuhnya semakin bertambah  sesuai fungsi inverse dari cosinus sudut elevasi matahari. Sebagai contoh, ketika sudut elevasinya 60 maka jarak tempuhnya menjadi dua kali lipat (AM2). Umumnya AM1.5 dengan sudut elevasi 48 digunakan sebagai standar untuk pengukuran sistem panel surya. Besar energi untuk AM1.5 yaitu 1000 W/m2, sedangkan untuk AM0 yaitu 1360 W/m2 yang biasa disebut solar constant.

Besar aktual radiasi cahaya matahari yang diterima dipermukaan bumi bervariasi tiap area, dan sangat bergantung kepada musim dan variasi dari posisi matahari dan orientasi bumi. Gambar dibawah menunjukkan besar rata-rata energi radiasi cahaya dalam kWh persatuan area perhari diberbagai belahan bumi, untuk kondisi langit cerah dan radiasi tepat horizontal diatas permukaan bumi. Dari gambar  tersebut jelas terlihat potensi penggunaan energi surya dari negara-negara yang terletak dekat dengan ekuator termasuk Indonesia. Selain itu, radiasi cahaya matahari di Indonesia pun relatif konstan pertahunnya dikarenakan hanya terdapat dua musim, dibandingkan negara-negara dengan empat musim dimana pada musim-musim tertentu energi radiasi yang diterima akan berkurang.

Energi radiasi matahari yang diterima diberbagai belahan bumi dalam satuan kWh/m2/hari untuk kondisi langit cerah dan cahaya matahari tepat horizontal diatas permukaan bumi. (Gambar : NASA)

*Sumber :

1. Jenny Nelson, “Physics of Solar Cell”, Imperial College Press, 2003.

2. Paul A. Lynn, “Electricity from Sunlight”, Wiley, 2010.

3. Wikipedia

4. NASA website

5. Laser Focus World website

*Definisi dari istilah-istilah teknis diartikel ini bisa ditemukan di menu “Daftar istilah-istilah”.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 737 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: